SHDN_LOGIP

SHDN-2012

SHDN-2012

24 Feb 2010

Berguru pada Dewi Saraswati

Tersebutlah di parahyangan gunung agung, widadari diatas kahyangan pegunungan yang teramat suci itu, tengah bersenda gurau lepas, menabur bunga-bunga wewangian aneka warna dan sesekali memerciki tirta giri kusuma diatas hamparan pura Besakih, saat tiba menjelang fajar menguning dilangit, yang masih berserakan kabut sutra.

Pagi ini, saniscara umanis, watugunung, tanggal empat belas sasih kasanga 1931 saka, adalah hari perayaan Saraswati, umat di seluruh pelosok Bali dan nusantara tengah bersiap-siap melakukan persembahyangan bersama.

Saat pagi menjelang inilah, Dewi Saraswati berhasrat akan turun ke Bali, dirinyapun bersiap keluar dari istana swargaloka di kahyangan nusantara. Ia disambut widadari kahyangan penuh kehormatan. Dewi Saraswati adalah permaisuri Dewa Brahma, dewi ilmu pengetahuan, kedamaian, seni, musik dan kearifan. Dirinya dilukiskan sedang memegang buku perwujudan pengetahuan Sanghyang Widhi dan alat musik yang mengalunkan nada-nada tembang kebijaksanaan tertinggi, bersama bangau putih, kendaraannya yang setia menemaninya kemana saja.

Setelah mendapat restu dari Dewa Brahma, terbanglah dirinya menaiki burung bangau dan ditemani belasan widadari pengiringnya. Ketika baru turun dari kahyangan, melihatlah dirinya ke gunung agung, tepatnya di puncak kori agung, tampak kejauhan anak muda seorang diri sedang bersemadhi, dihadapan sebuah pelinggih Sanghyang Tunggal yang teramat sederhana, gugusannya terbuat dari batu merah, tersusun bagai meru bertumpang sebelas dan bertedung putih dan kuning. Turunlah dirinya, dihadapan anak muda yang tengah bersikap amustikara itu, terperanjatlah dirinya, lalu bergegas mencakup kedua telapak tangannya, berucap salam padanya. Rasa kagum Dewi Saraswati pada anak muda itu, teguh seorang diri, bersemadhi dipuncak gunung pada perayaan turunnya beliau ke bumi. Sangat jarang didapatnya, anak muda yang bertekad kuat memiliki keinginan berilmu darinya, yang tulus bersusah payah mencapai puncak gunung dan bersemadhi seorang diri.

Dewi Saraswatipun bertanya padanya, gerangan apa yang anak muda itu inginkan, dalam pertapaannya di kedinginan gunung agung seorang diri. Pemuda itu mengatakan pada Dewi bahwa dirinya tengah bersemadhi, menunggu Dewi Saraswati turun dari kahyangan pada perayaan Saraswati nanti, karena dirinya sangat memohon anugerah ilmu darinya, kelak ingin mengabadikan sinar ajaran kepandaian Dewi Saraswati sebagai seorang siswa yang berguna.

Lalu sang Dewi pun mengabulkan permohonannya, dirinyapun memberikan pelajaran pada anak muda itu tentang ilmu menjadi guru bagi dirinya sendiri, sekaligus menjadi seorang siswa adhikari, tuntunan mennjadi seorang umat muda dengan spiritual yang baik, mampu menahan dirinya dari perbuatan buruk dan terus mengembangkan sifat-sifat Sanghyang Widhi kedalam dirinya.

“Sebaiknya diingat-ingat nasihatku ini, dirimu yang berhati teduh, bening dan berbudi mulia, sabar dan cerdas dalam segala sesuatu. Tak mau lupa diri, hingga masih senang ingin mendapat ilmu dariku. Mantapkan hati kedalam kebajikan, dan pesanku padamu, bersyukurlah dengan penerimaanmu, kepandaian akan ilmu dariku semua itu sudah ada dalam hatinya setiap manusia, sebab itu orang-orang muda harus sering bertanya jangan malu kelihatan bodohnya, dari bodoh pintar bermula, rajin-rajinlah mencari ilmu untuk memperkuat diri. Karena pengetahuan tentang ajaranku ini tak akan turun tanpa membebaskan dirimu dari kemalasan dan kebodohan.”

“Janganlah lalai dari puja trisandhya (doa pertemuan pagi, siang dan malam) janganlah berhenti pujastuti kepada Sanghyang Widhi, agar terjaga pikiran dan hatimu itu dengan kepandaian dan kebajikan dari-Nya. Hanya kedisplinan pada puja trisandhya, yang bisa memelihara ajaran kepandaianku tetap dalam anugerah-Nya“ Anak muda itu mengangguk berulang-kali penuh semangat.

“Peganglah ajaranku ini anakku, Sanghyang Widhi sudah menganugerahi kita semua dengan rasa ajaib penuh rahasia, yaitu ada pada manas (pikiran), buddhi (akal kecerdasan), indriya (panca indera), sarira (badan) dan atma-mu (sukma) itu. Oleh karena itu kerjakanlah nitya-jnana (pengetahuan abadi) dengan kebajikan itu siang dan malam, agar dapat bertemu dengan-Nya (sifat-sifat-Nya) yang tak dapat dipakai dengan kepandaian pikiran belaka, yang begini bila tercapai, maka sesungguhnya engkau adalah siswa yang telah berguru pada-Nya dan bahkan pula, terbayarkan hutang-hutangmu kepada kedua orangtuamu, terutama ibu yang melahirkan dan menjagamu” Ucap Dewi Saraswati penuh keibuan.

Dewi Saraswatipun semakin mendekatkan dirinya pada anak muda itu, dibelailah kepalanya dengan kasih sayangnya, laksana ibunda pertiwi dengan ananda kesatrianya.

“Anakku, mencapai ilmu kepandaian yang tinggi tidak ada jalan lain kecuali berlaku sabar, sebagaimana engkau mencapai puncak gunung tidak dengan tergesa-gesa, bulan pun bertambah besar sedikit demi sedikit untuk menerangi bumi, pohon beringin pun berasal dari benih yang sangat kecil dan tidak tumbuh besar seketika, ringkasnya jagalah kepandaianmu hingga menjadi tinggi dengan benih-benih kebajikan saja, yang demikian akhirnya menjadi sempurna, tidak ada yang kurang apalagi hilang (abadi).”

“Turunlah engkau dari puncak gunung, kembalilah memulai hidupmu menjadi siswa yang tekun, patuhlah pada kedua orang tuamu juga gurumu, pelajarilah ilmu kepandaian dengan kebajikan dan kesabaran, niscaya engkau akan menjadi siswa yang berguna bagi nusa dan bangsa, senang hati Sanghyang Widhi menganugerahimu, kelak kamu akan menjadi siswa yang kaya raya dalam dharma, senantiasa berhasil dalam segala cita-cita.”

Anak muda itu senang hatinya, berterima kasih dan berpamit mohon diri, perlahan menuruni bebatuan yang curam dari ketinggian gunung Agung. Beriringan dengan widadari kahyangan, mengiringi Dewi Saraswati melanjutkan darmayatra, meninjau pura-pura luhur sad kahyangan dipulau seribu pura, memberikan restu dan menganugerahi ilmu-ilmu kepandaiannya pada semua umat dengan senyum dan penuh kasih, di perayaan saraswati yang membahagiakan.

Anak muda itupun berjalan ceria, menuai harapan dari kejauhan, seandainya orang-orang cendikiawan, guru dan pemimpin bangsa ini, tak berharap tanda jasa, sepi dalam pamrih, sadar mengabadikan ajaran kepandaian pada dirinya, mengutamakan ilmu untuk kebajikan bukan untuk keangkuhan, kekuasaan dan kekayaan semata.

Tentunya akan banyak generasi muda menjadi siswa yang disiplin, patuh dan tekun menimba ilmu pengetahuan dengan kebajikan, sadar pada masa depannya bersama membawa negeri nusantara tercinta ini, lepas dari kemerosotan moral dan korupsi yang membudaya generasi ke generasi.
Rahayu,Indraprabudjati 24022010