Hyang Widhi,
Ajari hamba meredam rasa kesendirian
Temani hamba agar tak lagi slalu bersusah payah diri
Dari setiap persoalan hidup dikesendirian
Sehingga hamba bisa lebih lapang dada
Memikul semua tanggung jawab ini dengan keyakinan atas Nama-MU
Maafkan hamba dari tindakan yg menyalahkan orang lain
Dan maafkan orang lain yg terus menyalahkan hamba
Hamba menyadari adanya karma dan dharma
Keberhasilan hidup yang seadil-adilnya adalah menurut Kuasa-MU
Juga kebahagiaan yang dpt hamba raih
Hanyalah datang menurut Karunia-MU
Dihari ini hamba serahkan semua
Yang hamba jalankan menurut Penilaian-MU
Dan menerima semuanya menurut Pemberian-MU
OM Awighanamastu..
7 Agu 2011
1 Agu 2011
Nasihat Hindu terhadap pernikahan beda agama
Apakah dibenarkan meninggalkan Hindu:
Agama apapun tentu saja tidak menyarankan kita berpindah agama. Dan kamu akan dihadapkan pada tarik-menarik untuk pindah atau dia yang pindah.
Sedangkan aku harus menikah dan berpindah agama:
Orang tua siapapun tidak berharap kamu berpindah meski dengan alasan menikah sekalipun. Orang-tua siapapun tidak siap lahir bathin untuk itu, pasti akan menuai hubungan tidak harmonis dgn orang tuamu. Jadi perlu dipikirkan lagi, mana yg kamu utamakan, bhakti pada orang tuamu atau bhakti pada dirimu sendiri dgn mengorbankan kepedulian dan harapan orang tuamu. Apalagi soal cinta yng belum kamu tahu pasti, manis sekarang bisa pahit dikemudian. Sdngkan cinta kedua orangtuamu nyata ada sepanjang hidupmu.
Apa yang harus saya lakukan bila orang tua saya tetap menolak:
Pertama, urungkan niat itu dulu, bicara dgn kekasihmu, apakah ia mau berpindah agama demi bhakti pada kedua orang tuamu. BIla tidak, urungkan saja atau sampai apakah hubungan itu pantas untuk dilanjutkan.
Kedua, Jangan melakukan pernikahan tanpa restu kedua orang tuamu apalagi menikah dibawah tangan, atau bahkan hamil diluar nikah agar direstui, akan banyak persoalan besar tiada henti dikemudian hari.
Jatuh bangun dalam masa-masa keluarga nanti akan terus menimpa kamu.
Tetapi kami sudah sangat saling mencintai:
Meski saling mencintai, namun belum direstui, maka pertimbangannya adalah kamu berdua dihadapkan oleh Tuhan untuk memahami agama yang berbeda, bila masih ada kemarahan dalam sikap perbedaan itu, maka itulah yg tidak dikehendaki kedua orang tuamu. Karena boleh jadi kamu hanya kasmaran dimabuk cinta saja, niscaya pernikahannya hanyalah seumur jagung.
Berdosakah kedua orang tua saya bila saya berpindah agama
Maka terlepaslah kewajiban orang tua dalam kewajiban agama bagi anak-anaknya yg sudah dewasa.
Hyang Widhi Maha Tahu, tidak akan memberatkan kedua orang tuanya atas apa yang telah diputuskan anaknya. Sekali lagi orang tua siapapun meski bertanda setuju, tetapi hatinya masih tak bisa tenang.
Kalau begitu berdosakah saya dan orang tua saya:
Tentu saja, rasa berdosa itu akan terus membawa kamu kedalam suasana yang mengganggu ketentraman hatimu juga kedua orang-tuamu, meskipun direlakan juga dituluskan. Karena dharma bagi Hindu bukan soal agamanya saja, tetapi esensi ajaran dharma dalam tradisi, budaya dan budi pekerti yg diwariskan kedua orang tua nampaknya terputus talinya.
Berarti saya harus relakan hubungan ini demi orang tua dan agama saya:
Benar, jangan pernah ragu bila tersadarkan pendapat ini. Kamu harus kenali cintamu, bisa jadi hanya dimabuk kasamaran, meski selama itu indah, disaat berumah tangga belum tentu indah. Yang wanita akan terus tersiksa hatinya, yang pria akan semakin hilang percaya dirinya. Dan anak-anakmu lahir dalam kebimbangan.
Pahami makna cinta sesungguhnya, cinta bukan soal suka sama suka, juga cerita tentang dashyatnya cinta, tapi cinta adlh jalan utk mencapai dharma. Tanpa dharma, waspadalah cinta itu menyesatkan kamu.
Agama apapun tentu saja tidak menyarankan kita berpindah agama. Dan kamu akan dihadapkan pada tarik-menarik untuk pindah atau dia yang pindah.
Sedangkan aku harus menikah dan berpindah agama:
Orang tua siapapun tidak berharap kamu berpindah meski dengan alasan menikah sekalipun. Orang-tua siapapun tidak siap lahir bathin untuk itu, pasti akan menuai hubungan tidak harmonis dgn orang tuamu. Jadi perlu dipikirkan lagi, mana yg kamu utamakan, bhakti pada orang tuamu atau bhakti pada dirimu sendiri dgn mengorbankan kepedulian dan harapan orang tuamu. Apalagi soal cinta yng belum kamu tahu pasti, manis sekarang bisa pahit dikemudian. Sdngkan cinta kedua orangtuamu nyata ada sepanjang hidupmu.
Apa yang harus saya lakukan bila orang tua saya tetap menolak:
Pertama, urungkan niat itu dulu, bicara dgn kekasihmu, apakah ia mau berpindah agama demi bhakti pada kedua orang tuamu. BIla tidak, urungkan saja atau sampai apakah hubungan itu pantas untuk dilanjutkan.
Kedua, Jangan melakukan pernikahan tanpa restu kedua orang tuamu apalagi menikah dibawah tangan, atau bahkan hamil diluar nikah agar direstui, akan banyak persoalan besar tiada henti dikemudian hari.
Jatuh bangun dalam masa-masa keluarga nanti akan terus menimpa kamu.
Tetapi kami sudah sangat saling mencintai:
Meski saling mencintai, namun belum direstui, maka pertimbangannya adalah kamu berdua dihadapkan oleh Tuhan untuk memahami agama yang berbeda, bila masih ada kemarahan dalam sikap perbedaan itu, maka itulah yg tidak dikehendaki kedua orang tuamu. Karena boleh jadi kamu hanya kasmaran dimabuk cinta saja, niscaya pernikahannya hanyalah seumur jagung.
Berdosakah kedua orang tua saya bila saya berpindah agama
Maka terlepaslah kewajiban orang tua dalam kewajiban agama bagi anak-anaknya yg sudah dewasa.
Hyang Widhi Maha Tahu, tidak akan memberatkan kedua orang tuanya atas apa yang telah diputuskan anaknya. Sekali lagi orang tua siapapun meski bertanda setuju, tetapi hatinya masih tak bisa tenang.
Kalau begitu berdosakah saya dan orang tua saya:
Tentu saja, rasa berdosa itu akan terus membawa kamu kedalam suasana yang mengganggu ketentraman hatimu juga kedua orang-tuamu, meskipun direlakan juga dituluskan. Karena dharma bagi Hindu bukan soal agamanya saja, tetapi esensi ajaran dharma dalam tradisi, budaya dan budi pekerti yg diwariskan kedua orang tua nampaknya terputus talinya.
Berarti saya harus relakan hubungan ini demi orang tua dan agama saya:
Benar, jangan pernah ragu bila tersadarkan pendapat ini. Kamu harus kenali cintamu, bisa jadi hanya dimabuk kasamaran, meski selama itu indah, disaat berumah tangga belum tentu indah. Yang wanita akan terus tersiksa hatinya, yang pria akan semakin hilang percaya dirinya. Dan anak-anakmu lahir dalam kebimbangan.
Pahami makna cinta sesungguhnya, cinta bukan soal suka sama suka, juga cerita tentang dashyatnya cinta, tapi cinta adlh jalan utk mencapai dharma. Tanpa dharma, waspadalah cinta itu menyesatkan kamu.
Bagi Yang Telah Menikah Beda Agama
Apakah aku telah berdosa karena pernikahan:
Bagi Hindu, soal dosa atau tidak adalah karma dari Dharma dan Adharma. Ajaran Hindu penuh kasih, tidak menghakimi umatnya apalagi membencinya, karena semua adalah tanggung jawabmu. Hindu mengajarkan hukum karma juga kelahiran kembali (reinkarnasi). Jadi apapun yg dilakukan umatnya sekarang adalah bagian dari itu semua. Jadi pilihan menikah beda agama adalah pilihan karmamu sendiri. Dharma harus tetap ada, beda agama bukan ajarannya yg diperdebatkan, tapi komitmen kamu terhadap Dharma yg membaur dgn agamamu sekarang.
Padahal kami sudah memiliki anak dan berbahagia:
Tentu saja prinsip Hindu adalah Dharma yg mengutamakan kebahagiaan, meski dijalan yang berbeda. Bagi Hindu bukan soal Hindunya, tapi ajaran dharma kamu pelihara dan tetap ada dikehidupan keluargamu sekarang.Bila kamu dan pasangan hidupmu juga anak-anakmu dalam kehidupan yang berbahagia, menandakan ada dharma dihatimu meski dalam bahasa yg berbeda. Jalankan dan pelihara terus, bisa saja inilah perjodohan yang nyata dari-Nya.
Meski aku sudah pindah agama ternyata problema perbedaan itu tetap ada:
Ya, itu sudah pasti. Kamu harus menyadari, bahwa inilah jalan yg sudah kamu ambil, akan banyak persoalan kecil yg mengganggu lubuk hatimu. Bersiaplah bila itu terasa menyakitkan dan menyengsarakan hatimu.
Dan yang bisa menyelesaikan hanyalah kamu berdua, belajarlah setiap hari untuk saling memahami, berbicara dgn dewasa dan bijaksana.
Lantas nasihat apa yg paling baik untuk meredam konflik ini:
Mengalah dan bersabar harus dari kedua-duanya, harus lahir bathin. Soal beda pendapat ttg ajaran agamamu dgn ajaran agama yg kamu anut sekarang, kembali pada kamu sendiri, jelas pengorbanan hati dalam sikap dan pendapat yg berbeda menjadi akibat dari semua itu, Dan nasihatnya adalah kerendahan hati, mau menunggu sabar utk memahami perbedaan dgn baik tanpa memaksa. Keutuhan keluarga harus tetap dijaga, saling koreksi diri, mau menerima lapang dada dan membuka diri dalam pemahaman yg berbeda adalah sarana membangun perbedaan menjadi kesatuan yang indah.
Jagalah semua perbedaan demi anak-anakmu:
Bagaimanapun anak-anak yang telah terlahir diantara kamu, maka mereka harus dibesarkan dengan suasana ketenangan bukan ketegangan. Anak-anakmu adalah anugerah yg diberikan untuk terus mempertahankan keutuhan keluarga, dan ini adalah tugas anugerah dari-Nya, dititipkan oleh-Nya agar kita tidak boleh terhenti atau membuat pernikahan itu menjadi sia-sia. Tentu saja, penderitaan anak-anak dari perceraian akan menjadi karma yg sangat tidak baik bagi kehidupan kita dan anak-anak akan datang.
Salam Dharma.
Bagi Hindu, soal dosa atau tidak adalah karma dari Dharma dan Adharma. Ajaran Hindu penuh kasih, tidak menghakimi umatnya apalagi membencinya, karena semua adalah tanggung jawabmu. Hindu mengajarkan hukum karma juga kelahiran kembali (reinkarnasi). Jadi apapun yg dilakukan umatnya sekarang adalah bagian dari itu semua. Jadi pilihan menikah beda agama adalah pilihan karmamu sendiri. Dharma harus tetap ada, beda agama bukan ajarannya yg diperdebatkan, tapi komitmen kamu terhadap Dharma yg membaur dgn agamamu sekarang.
Padahal kami sudah memiliki anak dan berbahagia:
Tentu saja prinsip Hindu adalah Dharma yg mengutamakan kebahagiaan, meski dijalan yang berbeda. Bagi Hindu bukan soal Hindunya, tapi ajaran dharma kamu pelihara dan tetap ada dikehidupan keluargamu sekarang.Bila kamu dan pasangan hidupmu juga anak-anakmu dalam kehidupan yang berbahagia, menandakan ada dharma dihatimu meski dalam bahasa yg berbeda. Jalankan dan pelihara terus, bisa saja inilah perjodohan yang nyata dari-Nya.
Meski aku sudah pindah agama ternyata problema perbedaan itu tetap ada:
Ya, itu sudah pasti. Kamu harus menyadari, bahwa inilah jalan yg sudah kamu ambil, akan banyak persoalan kecil yg mengganggu lubuk hatimu. Bersiaplah bila itu terasa menyakitkan dan menyengsarakan hatimu.
Dan yang bisa menyelesaikan hanyalah kamu berdua, belajarlah setiap hari untuk saling memahami, berbicara dgn dewasa dan bijaksana.
Lantas nasihat apa yg paling baik untuk meredam konflik ini:
Mengalah dan bersabar harus dari kedua-duanya, harus lahir bathin. Soal beda pendapat ttg ajaran agamamu dgn ajaran agama yg kamu anut sekarang, kembali pada kamu sendiri, jelas pengorbanan hati dalam sikap dan pendapat yg berbeda menjadi akibat dari semua itu, Dan nasihatnya adalah kerendahan hati, mau menunggu sabar utk memahami perbedaan dgn baik tanpa memaksa. Keutuhan keluarga harus tetap dijaga, saling koreksi diri, mau menerima lapang dada dan membuka diri dalam pemahaman yg berbeda adalah sarana membangun perbedaan menjadi kesatuan yang indah.
Jagalah semua perbedaan demi anak-anakmu:
Bagaimanapun anak-anak yang telah terlahir diantara kamu, maka mereka harus dibesarkan dengan suasana ketenangan bukan ketegangan. Anak-anakmu adalah anugerah yg diberikan untuk terus mempertahankan keutuhan keluarga, dan ini adalah tugas anugerah dari-Nya, dititipkan oleh-Nya agar kita tidak boleh terhenti atau membuat pernikahan itu menjadi sia-sia. Tentu saja, penderitaan anak-anak dari perceraian akan menjadi karma yg sangat tidak baik bagi kehidupan kita dan anak-anak akan datang.
Salam Dharma.
13 Sep 2010
Berguru Pada Hyang Widhi
Tiada kebenaran yang mutlak, selalu berganti dan berganti, bagai bunga akan tumbuh kembang berganti meski terlihat sama, juga dari pohon yang sama.Hanya kebenaran dari-Nya yang tiada berganti, mutlak kekal, dan abadi.
Pandanglah hanya diri kita dengan kesederhanaan yang sempurna, kesabaran yang tulus sejati dan kekuatan yang tak bernafsu, kelak inilah senjata-senjata kita bagi musuh dalam diri kita, juga kunci-kunci dari segala pintu penghalang kita.
Maka sesungguhnya kita telah berguru pada-Nya. Karena tiada guru yang sempurna selain Diri-Nya yang Maha Benar dan Maha Suci.
Indraprabudjati
Pandanglah hanya diri kita dengan kesederhanaan yang sempurna, kesabaran yang tulus sejati dan kekuatan yang tak bernafsu, kelak inilah senjata-senjata kita bagi musuh dalam diri kita, juga kunci-kunci dari segala pintu penghalang kita.
Maka sesungguhnya kita telah berguru pada-Nya. Karena tiada guru yang sempurna selain Diri-Nya yang Maha Benar dan Maha Suci.
Indraprabudjati
5 Mar 2010
Relokasi SLB-B Jimbaran Karena Ada Diareal Bisnis ?
Ada barometer yang salah dalam menyikapi arti kemajuan dan pertumbuhan pada nilai ekonomi belaka, melalui nota dinas Kepala Disdikpora Bali, perihal relokasi kepada DPRD Badung, menyatakan bahwa lahan SLB-B Jimbaran kedepan kurang representatif untuk sekolah, karena ada diwilayah pengembangan bisnis. Kenapa dinas pendidikan yang berkompeten pada visi-misi pendidikan anak bangsa, memvonis SLB-B Jimbaran yang menjadi binaannya bertahun-tahun, tiba-tiba bersikeras menyatakan sekolah ini berada diareal perkembangan bisnis, dan harus dipindahkan ke Tohpati.
Apakah paradigma budaya orientasi dinas pendidikan provinsi sekarang, tunduk atau terjebak pada materialisasi? Ini pendapat rumusan alasan relokasi yang perlu dikaji ulang.
Semestinya secara matematis, maju pesatnya perkembangan bisnis diareal itu, harus seirama dengan kedewasaan kita pada perilaku, moral dan etika. Tampaknya hal itu malah timpang, adanya SLB-B di Jimbaran, menunjukkan komitmen moral terhadap keseimbangan kedewasaan kita, yang menyirami benih-benih kebajikan menjadi taman kehidupan di Kuta Selatan, dimana semua manusia termasuk anak-anak penyandang cacat, hidup berdampingan, bersenda gurau dan bergandengan tangan. Bukan justru SLB-B diberikan pendapat berada ditempat yang salah, akhirnya terjadi gusur-menggusur, meski dengan kata yang lebih santun, menggagas relokasi SLB-B yang lebih representatif. Padahal bersamaan relokasi, di akhir 2009, Disdikpora Bali baru saja merampungkan gedung baru laboratorium bahasa senilai 900 juta-an. Artinya, gedung baru senilai ratusan juta di kawasan SLB-B Jimbaran, hanya akan berusia singkat digunakan.
Menetapkan secara lebih jelas, cara analisis yang lebih menyakinkan masyarakat, adanya analisis instant lahan SLB-B untuk kepentingan bisnis, menyampingkan prestasi dan jerih payah yang sudah dibangun para pendidik, anak-anak autis, tuna rungu dan tuna wicara di SLB-B Jimbaran. Dilain hal, Justru perusahaan swasta dan asing, hotel berbintang di Jimbaran, Kuta dan Nusa Dua memberikan sumbangan materi, pelatihan kerja bahkan memperkerjakan siswa lulusan SLB-B di hotel, patut diacungi dua jempol!. Nampaknya Disdikpora Bali kalah analisis dengan analisis mereka terhadap keberadaan anak-anak SLB di Jimbaran, padahal kita selalu menunjukkan religius dan berbudaya tradisional ketimbang bangsa barat.
Lagipula tak jauh dari gedung SLB-B Jimbaran, juga ada SDN 06. Apakah SDN 06 juga akan dikenakan perihal yang sama? Bagi masyarakat pengguna SLB-B, ini berindikasi sebuah persepsi munculnya nuansa perbedaan yang kental, anak-anak normal dan penyandang cacat itu berbeda dan harus berbeda.
SLB-B sejak 1984, meski pembangunan fisik sebagai salah satu indeks kemajuan sekolah berpredikat Sekolah Pembina Tingkat Nasional ini, masih jauh dari predikatnya, namun pertumbuhan nilai moralitas dan kualitas pendidikannya sudah bergerak sesuai predikatnya di provinsi Bali. Kenapa harus membuat biaya lain, padahal memperbaikinya adalah gagasan yang jauh lebih bersahaja dan bijaksana. Biaya relokasi puluhan milyar yang telah dianggarkan, justru bisa ditekan dan dialihkan untuk peningkatan fasilitasnya yang sudah tersedia di Jimbaran. Tentunya, kita akan angkat topi setinggi-tingginya dengan apa yang telah dilakukan oleh Gubernur Bali dan Disdikpora Bali, tidak hanya menunjukkan simpati tetapi juga empatinya.
Penafsiran sepihak Gubernur, Disdikpora dan Komisi IV DPRD Bali, mendudukkan posisinya seakan orang tua, anak-anak SLB-B dan masyarakat di Jimbaran tidak terlibat langsung, sehingga aspirasi penolakan relokasi tidak dimediasi dengan kearifan dan sikap ‘legowo’ bersosialisi lebih awal. Sebagai berkumpulnya sarjana-sarjana pendidikan di eksekutif dan legistatif, tentunya profesionalitas seorang pendidik dituntut tidak mudah tunduk pada kepentingan dunia materialitas semata.
Sebagai mayoritas Hindu, kita percaya, peran niskala-sekala pada lingkungan dan tanah SLB-B Jimbaran sudah mendukung, adalah anugerah viveka bagi kita. Kalau kita mengingkarinya, rasanya kita telah mengabaikan nyadnya kita pada amanah leluhur yang menitipkan anak-anaknya pada kita di Jimbaran, yang sedang menjalani kehidupan dengan keterbatasan.
Anak-anak SLB-B di Jimbaran sudah memiliki ‘roh’, ada penyatuan spirit dilingkungannya, nyatanya turut andil memberikan nilai-nilai therapist yang kondunsif dan amat diperlukan dalam tumbuh kembang mental anak-anak SLB-B. Kesolidaritasan orang tua, mampu berpikir konstruktif dari keberagaman suku maupun agama, menyatu dari situasi adanya saling membutuhkan, wujud cinta kasih sesama, seakan sudah digariskan oleh Yang Maha Pencipta. Menjadi bukan soal jarak jauh dekat, tetapi nilai humanis yang ingin dipertahankan. Bila saja, di jajaran eksekutif dan legistatif, memiliki nasib anak-anak yang sama dengan anak-anak SLB, pastinya tak akan ragu melakukan perjuangan yang sama.
Maka, relokasi menjadi beban moral dari harmoni yang sudah terlanjur tercipta, akan ada yang terputus sekolah, meski maksimal gedung barunya di Tohpati, belum tentu optimal siswanya berpindah disana. Bila saja, salah satu temannya tidak bersekolah kesana, maka temannya akan kehilangan. Secara psikis, mengganggu emosionalnya, karena bagi mereka, bersekolah, bukan karena keharusan bersekolah. Pemerintah, masyarakat, pendidik dan orang tua yang berkepentingan menyekolahkan mereka.
Anak-anak tahunya hanya ingin bermain, memilih teman dan saling bersahabat, kehilangan satu sahabat, hilang rasa percaya dirinya dan pupus minatnya bersekolah. Perlu berbulan-bulan untuk mengubah dampak pada psikisnya. Relokasi memberikan dampak psikologis anak-anak SLB-B, dipaksa mengikuti adaptasi lingkungan baru di Tohpati yang jauh berbeda dengan kenyamanan di Jimbaran yang sudah tercipta kondusif dengan luas lahan yang memenuhi manfaat therapis bagi tumbuh kembang anak bertahun-tahun.
Satu hal yang dikesampingkan dari perhatian Gubernur dan Disdikpora Bali, bahwa Infrastruktur yang dibangun dengan konsep lahan di Jimbaran, diperhitungkan anak-anak bisa terhindar dari bahaya gempa bumi, karena anak SLB akan bereaksi lamban ketika ancaman gempa bumi datang. Di Jimbaran, luas taman sebagai areal terbuka ada disetiap gedung satu sama lain saling berjauhan. Setiap gedung sangat minimalis, tidak berliku, memiliki banyak pintu dan jendela keluar. Berbeda di gedung sekolah umum, meminimalisasi areal terbuka, bertingkat, berliku, pintu keluar sempit dan tersembunyi, siswa mudah terjebak didalam gedung ketika dalam keadaan panik.
Terkesan Disdikpora Bali tampak terjebak pada distorsi visi dan misi atasannya sendiri, perannya sebagai Pembina SLB-B, yang memahami betul kualitas prestasi tumbuh-kembang yang sudah terbangun disana, kenapa harus disampingkan, membiarkan lahan SLB-B menjadi pemanfaatan lahan yang insidensial, dan ‘menganugerahi’ SLB-B tidak representatif. Gedung representatif ala Gubernur Bali di Tohpati belum bisa menjamin terciptanya harmoni yang sudah terbangun di Jimbaran. Sedemikian pentingkah lahan itu untuk ditinggalkan, dan adakah suara hati nurani yang lebih pantas, untuk menggantikan SLB-B di Jimbaran.
Kita yakin pemerintah provinsi dan wakil rakyat di DPRD Bali masih malu juga setengah hati berterus terang tentang hal ini. Cerminan tradisi pemerintahan daerah kita, berada pada posisi defensif berhadapan dengan kecenderungan budaya-spiritual Hindu dan moderenis. Ini merupakan cerminan fakta, bahwa otonomi daerah belum tercapai dibidang budaya dan spiritual.
Jika pada konsep Tri Hita Karana, masyarakat diminta menjalankan dengan kepekaan hati, dengan rasa, sedangkan pemerintah sebaliknya, diminta lebih rasional, bijaksana dan selalu adil. Relokasi ke Tohpati, cenderung menonjolkan nostalgia di Jimbaran, ketimbang pendapat representatif yang dimaksud.
ORANG TUA MURID SLB-B JIMBARAN UNTUK SARASEHAN HINDU NUSANTARA
Apakah paradigma budaya orientasi dinas pendidikan provinsi sekarang, tunduk atau terjebak pada materialisasi? Ini pendapat rumusan alasan relokasi yang perlu dikaji ulang.
Semestinya secara matematis, maju pesatnya perkembangan bisnis diareal itu, harus seirama dengan kedewasaan kita pada perilaku, moral dan etika. Tampaknya hal itu malah timpang, adanya SLB-B di Jimbaran, menunjukkan komitmen moral terhadap keseimbangan kedewasaan kita, yang menyirami benih-benih kebajikan menjadi taman kehidupan di Kuta Selatan, dimana semua manusia termasuk anak-anak penyandang cacat, hidup berdampingan, bersenda gurau dan bergandengan tangan. Bukan justru SLB-B diberikan pendapat berada ditempat yang salah, akhirnya terjadi gusur-menggusur, meski dengan kata yang lebih santun, menggagas relokasi SLB-B yang lebih representatif. Padahal bersamaan relokasi, di akhir 2009, Disdikpora Bali baru saja merampungkan gedung baru laboratorium bahasa senilai 900 juta-an. Artinya, gedung baru senilai ratusan juta di kawasan SLB-B Jimbaran, hanya akan berusia singkat digunakan.
Menetapkan secara lebih jelas, cara analisis yang lebih menyakinkan masyarakat, adanya analisis instant lahan SLB-B untuk kepentingan bisnis, menyampingkan prestasi dan jerih payah yang sudah dibangun para pendidik, anak-anak autis, tuna rungu dan tuna wicara di SLB-B Jimbaran. Dilain hal, Justru perusahaan swasta dan asing, hotel berbintang di Jimbaran, Kuta dan Nusa Dua memberikan sumbangan materi, pelatihan kerja bahkan memperkerjakan siswa lulusan SLB-B di hotel, patut diacungi dua jempol!. Nampaknya Disdikpora Bali kalah analisis dengan analisis mereka terhadap keberadaan anak-anak SLB di Jimbaran, padahal kita selalu menunjukkan religius dan berbudaya tradisional ketimbang bangsa barat.
Lagipula tak jauh dari gedung SLB-B Jimbaran, juga ada SDN 06. Apakah SDN 06 juga akan dikenakan perihal yang sama? Bagi masyarakat pengguna SLB-B, ini berindikasi sebuah persepsi munculnya nuansa perbedaan yang kental, anak-anak normal dan penyandang cacat itu berbeda dan harus berbeda.
SLB-B sejak 1984, meski pembangunan fisik sebagai salah satu indeks kemajuan sekolah berpredikat Sekolah Pembina Tingkat Nasional ini, masih jauh dari predikatnya, namun pertumbuhan nilai moralitas dan kualitas pendidikannya sudah bergerak sesuai predikatnya di provinsi Bali. Kenapa harus membuat biaya lain, padahal memperbaikinya adalah gagasan yang jauh lebih bersahaja dan bijaksana. Biaya relokasi puluhan milyar yang telah dianggarkan, justru bisa ditekan dan dialihkan untuk peningkatan fasilitasnya yang sudah tersedia di Jimbaran. Tentunya, kita akan angkat topi setinggi-tingginya dengan apa yang telah dilakukan oleh Gubernur Bali dan Disdikpora Bali, tidak hanya menunjukkan simpati tetapi juga empatinya.
Penafsiran sepihak Gubernur, Disdikpora dan Komisi IV DPRD Bali, mendudukkan posisinya seakan orang tua, anak-anak SLB-B dan masyarakat di Jimbaran tidak terlibat langsung, sehingga aspirasi penolakan relokasi tidak dimediasi dengan kearifan dan sikap ‘legowo’ bersosialisi lebih awal. Sebagai berkumpulnya sarjana-sarjana pendidikan di eksekutif dan legistatif, tentunya profesionalitas seorang pendidik dituntut tidak mudah tunduk pada kepentingan dunia materialitas semata.
Sebagai mayoritas Hindu, kita percaya, peran niskala-sekala pada lingkungan dan tanah SLB-B Jimbaran sudah mendukung, adalah anugerah viveka bagi kita. Kalau kita mengingkarinya, rasanya kita telah mengabaikan nyadnya kita pada amanah leluhur yang menitipkan anak-anaknya pada kita di Jimbaran, yang sedang menjalani kehidupan dengan keterbatasan.
Anak-anak SLB-B di Jimbaran sudah memiliki ‘roh’, ada penyatuan spirit dilingkungannya, nyatanya turut andil memberikan nilai-nilai therapist yang kondunsif dan amat diperlukan dalam tumbuh kembang mental anak-anak SLB-B. Kesolidaritasan orang tua, mampu berpikir konstruktif dari keberagaman suku maupun agama, menyatu dari situasi adanya saling membutuhkan, wujud cinta kasih sesama, seakan sudah digariskan oleh Yang Maha Pencipta. Menjadi bukan soal jarak jauh dekat, tetapi nilai humanis yang ingin dipertahankan. Bila saja, di jajaran eksekutif dan legistatif, memiliki nasib anak-anak yang sama dengan anak-anak SLB, pastinya tak akan ragu melakukan perjuangan yang sama.
Maka, relokasi menjadi beban moral dari harmoni yang sudah terlanjur tercipta, akan ada yang terputus sekolah, meski maksimal gedung barunya di Tohpati, belum tentu optimal siswanya berpindah disana. Bila saja, salah satu temannya tidak bersekolah kesana, maka temannya akan kehilangan. Secara psikis, mengganggu emosionalnya, karena bagi mereka, bersekolah, bukan karena keharusan bersekolah. Pemerintah, masyarakat, pendidik dan orang tua yang berkepentingan menyekolahkan mereka.
Anak-anak tahunya hanya ingin bermain, memilih teman dan saling bersahabat, kehilangan satu sahabat, hilang rasa percaya dirinya dan pupus minatnya bersekolah. Perlu berbulan-bulan untuk mengubah dampak pada psikisnya. Relokasi memberikan dampak psikologis anak-anak SLB-B, dipaksa mengikuti adaptasi lingkungan baru di Tohpati yang jauh berbeda dengan kenyamanan di Jimbaran yang sudah tercipta kondusif dengan luas lahan yang memenuhi manfaat therapis bagi tumbuh kembang anak bertahun-tahun.
Satu hal yang dikesampingkan dari perhatian Gubernur dan Disdikpora Bali, bahwa Infrastruktur yang dibangun dengan konsep lahan di Jimbaran, diperhitungkan anak-anak bisa terhindar dari bahaya gempa bumi, karena anak SLB akan bereaksi lamban ketika ancaman gempa bumi datang. Di Jimbaran, luas taman sebagai areal terbuka ada disetiap gedung satu sama lain saling berjauhan. Setiap gedung sangat minimalis, tidak berliku, memiliki banyak pintu dan jendela keluar. Berbeda di gedung sekolah umum, meminimalisasi areal terbuka, bertingkat, berliku, pintu keluar sempit dan tersembunyi, siswa mudah terjebak didalam gedung ketika dalam keadaan panik.
Terkesan Disdikpora Bali tampak terjebak pada distorsi visi dan misi atasannya sendiri, perannya sebagai Pembina SLB-B, yang memahami betul kualitas prestasi tumbuh-kembang yang sudah terbangun disana, kenapa harus disampingkan, membiarkan lahan SLB-B menjadi pemanfaatan lahan yang insidensial, dan ‘menganugerahi’ SLB-B tidak representatif. Gedung representatif ala Gubernur Bali di Tohpati belum bisa menjamin terciptanya harmoni yang sudah terbangun di Jimbaran. Sedemikian pentingkah lahan itu untuk ditinggalkan, dan adakah suara hati nurani yang lebih pantas, untuk menggantikan SLB-B di Jimbaran.
Kita yakin pemerintah provinsi dan wakil rakyat di DPRD Bali masih malu juga setengah hati berterus terang tentang hal ini. Cerminan tradisi pemerintahan daerah kita, berada pada posisi defensif berhadapan dengan kecenderungan budaya-spiritual Hindu dan moderenis. Ini merupakan cerminan fakta, bahwa otonomi daerah belum tercapai dibidang budaya dan spiritual.
Jika pada konsep Tri Hita Karana, masyarakat diminta menjalankan dengan kepekaan hati, dengan rasa, sedangkan pemerintah sebaliknya, diminta lebih rasional, bijaksana dan selalu adil. Relokasi ke Tohpati, cenderung menonjolkan nostalgia di Jimbaran, ketimbang pendapat representatif yang dimaksud.
ORANG TUA MURID SLB-B JIMBARAN UNTUK SARASEHAN HINDU NUSANTARA
24 Feb 2010
Hari Saraswati: Membaca Buku adalah Swadharma
Dewi Saraswati datang membawa sejuta buku, membagi-bagikan ilmu-Nya, diantara anak-anak kita, agar dapat tumbuh kembang menjadi anak-anak tunas bangsa Indonesia, berjiwa tauladan, mandiri dan berdikari. Sang Hyang Widhi mengutus Dewi Ilmu Pengetahuan ini, untuk hadir ditengah-tengah kita, membawa berkah bagi kehidupan kita semua. Dan kita mencurahkan pemberian-Nya melalui buku-buku yang kita tuliskan, dari generasi ke generasi.
Membaca buku adalah bagian dari ibadah kita, ibadah kepada-Nya, karena buku memberikan inpirasi dan pencerdasan pikiran dan jiwa, dari buku kita menyerapnya dan memberikan sumbangsih pada kita sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa, hal demikian adalah ibadah yang telah kita lakukan sesuai kehendak-Nya, yang telah menganugerahi kita akal dan pikiran yang sehat.
Kini, meski di jaman yang sudah disesaki dengan sejuta buku tentang pencerahan agama kehinduan kita, nyatanya masih merupakan bentuk ibadah yang terbelakang. Keengganan membaca buku pengetahuan agama menjadikan sumber daya umat Hindu paling lemah, hingga melemahkan sistem penyajian komunikasi, metode dan kualitas materinya. Hasilnya, ibadah dipahami dalam bentuk kekayaan ritual, sekelumit upakara dan pergi ke pura yang paling banyak disesaki umatnya hingga yang terkenal kesaktiannya.
Seharusnya kita malu pada Dewi Saraswati, dihari perayaannya, justru buku-buku agama, maupun lontar-lontar sastra kuno tabu dibaca, hanya ditumpuk dan diupacarai, dibuka hanya pada saat keperluan ritual, bukan keperluan untuk dipelajari dan digugah manfaatnya. Upacara hari Saraswati diberatkan pada nilai ritual, dan silih berganti keluar masuk pura tanpa dharmawacana, tanpa upaya mengupas maknanya dengan ceramah dan diskusi agama.
Andai saja Dewi Saraswati marah, tentunya ia takkan datang lagi dengan sejumlah tangan yang membawa sejuta pengetahuan, tetapi membawa sejuta pentungan, memaksa kita menyadari, kehadirannya oleh Sang Pencipta, datang untuk memberdayakan umat kita, agar jangan lagi dibodohi sikap ‘eksklusifisme agama dan tradisi’, saatnya menggunakan akal dan pikiran yang selaras dengan kesadaran-Nya (bermoral dan berbudi luhur sebagaimana sifat-sifat-Nya pada Brahman).
Mari kita sambut dan maknai perayaan Saraswati sebagai inspirasi pencerdasan umat, pemberdayaan dan butir-butir reformasi Hindu Nusantara masa depan!
Rahayu, Indra Prabudjati
Membaca buku adalah bagian dari ibadah kita, ibadah kepada-Nya, karena buku memberikan inpirasi dan pencerdasan pikiran dan jiwa, dari buku kita menyerapnya dan memberikan sumbangsih pada kita sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa, hal demikian adalah ibadah yang telah kita lakukan sesuai kehendak-Nya, yang telah menganugerahi kita akal dan pikiran yang sehat.
Kini, meski di jaman yang sudah disesaki dengan sejuta buku tentang pencerahan agama kehinduan kita, nyatanya masih merupakan bentuk ibadah yang terbelakang. Keengganan membaca buku pengetahuan agama menjadikan sumber daya umat Hindu paling lemah, hingga melemahkan sistem penyajian komunikasi, metode dan kualitas materinya. Hasilnya, ibadah dipahami dalam bentuk kekayaan ritual, sekelumit upakara dan pergi ke pura yang paling banyak disesaki umatnya hingga yang terkenal kesaktiannya.
Seharusnya kita malu pada Dewi Saraswati, dihari perayaannya, justru buku-buku agama, maupun lontar-lontar sastra kuno tabu dibaca, hanya ditumpuk dan diupacarai, dibuka hanya pada saat keperluan ritual, bukan keperluan untuk dipelajari dan digugah manfaatnya. Upacara hari Saraswati diberatkan pada nilai ritual, dan silih berganti keluar masuk pura tanpa dharmawacana, tanpa upaya mengupas maknanya dengan ceramah dan diskusi agama.
Andai saja Dewi Saraswati marah, tentunya ia takkan datang lagi dengan sejumlah tangan yang membawa sejuta pengetahuan, tetapi membawa sejuta pentungan, memaksa kita menyadari, kehadirannya oleh Sang Pencipta, datang untuk memberdayakan umat kita, agar jangan lagi dibodohi sikap ‘eksklusifisme agama dan tradisi’, saatnya menggunakan akal dan pikiran yang selaras dengan kesadaran-Nya (bermoral dan berbudi luhur sebagaimana sifat-sifat-Nya pada Brahman).
Mari kita sambut dan maknai perayaan Saraswati sebagai inspirasi pencerdasan umat, pemberdayaan dan butir-butir reformasi Hindu Nusantara masa depan!
Rahayu, Indra Prabudjati
Berguru pada Dewi Saraswati
Tersebutlah di parahyangan gunung agung, widadari diatas kahyangan pegunungan yang teramat suci itu, tengah bersenda gurau lepas, menabur bunga-bunga wewangian aneka warna dan sesekali memerciki tirta giri kusuma diatas hamparan pura Besakih, saat tiba menjelang fajar menguning dilangit, yang masih berserakan kabut sutra.
Pagi ini, saniscara umanis, watugunung, tanggal empat belas sasih kasanga 1931 saka, adalah hari perayaan Saraswati, umat di seluruh pelosok Bali dan nusantara tengah bersiap-siap melakukan persembahyangan bersama.
Saat pagi menjelang inilah, Dewi Saraswati berhasrat akan turun ke Bali, dirinyapun bersiap keluar dari istana swargaloka di kahyangan nusantara. Ia disambut widadari kahyangan penuh kehormatan. Dewi Saraswati adalah permaisuri Dewa Brahma, dewi ilmu pengetahuan, kedamaian, seni, musik dan kearifan. Dirinya dilukiskan sedang memegang buku perwujudan pengetahuan Sanghyang Widhi dan alat musik yang mengalunkan nada-nada tembang kebijaksanaan tertinggi, bersama bangau putih, kendaraannya yang setia menemaninya kemana saja.
Setelah mendapat restu dari Dewa Brahma, terbanglah dirinya menaiki burung bangau dan ditemani belasan widadari pengiringnya. Ketika baru turun dari kahyangan, melihatlah dirinya ke gunung agung, tepatnya di puncak kori agung, tampak kejauhan anak muda seorang diri sedang bersemadhi, dihadapan sebuah pelinggih Sanghyang Tunggal yang teramat sederhana, gugusannya terbuat dari batu merah, tersusun bagai meru bertumpang sebelas dan bertedung putih dan kuning. Turunlah dirinya, dihadapan anak muda yang tengah bersikap amustikara itu, terperanjatlah dirinya, lalu bergegas mencakup kedua telapak tangannya, berucap salam padanya. Rasa kagum Dewi Saraswati pada anak muda itu, teguh seorang diri, bersemadhi dipuncak gunung pada perayaan turunnya beliau ke bumi. Sangat jarang didapatnya, anak muda yang bertekad kuat memiliki keinginan berilmu darinya, yang tulus bersusah payah mencapai puncak gunung dan bersemadhi seorang diri.
Dewi Saraswatipun bertanya padanya, gerangan apa yang anak muda itu inginkan, dalam pertapaannya di kedinginan gunung agung seorang diri. Pemuda itu mengatakan pada Dewi bahwa dirinya tengah bersemadhi, menunggu Dewi Saraswati turun dari kahyangan pada perayaan Saraswati nanti, karena dirinya sangat memohon anugerah ilmu darinya, kelak ingin mengabadikan sinar ajaran kepandaian Dewi Saraswati sebagai seorang siswa yang berguna.
Lalu sang Dewi pun mengabulkan permohonannya, dirinyapun memberikan pelajaran pada anak muda itu tentang ilmu menjadi guru bagi dirinya sendiri, sekaligus menjadi seorang siswa adhikari, tuntunan mennjadi seorang umat muda dengan spiritual yang baik, mampu menahan dirinya dari perbuatan buruk dan terus mengembangkan sifat-sifat Sanghyang Widhi kedalam dirinya.
“Sebaiknya diingat-ingat nasihatku ini, dirimu yang berhati teduh, bening dan berbudi mulia, sabar dan cerdas dalam segala sesuatu. Tak mau lupa diri, hingga masih senang ingin mendapat ilmu dariku. Mantapkan hati kedalam kebajikan, dan pesanku padamu, bersyukurlah dengan penerimaanmu, kepandaian akan ilmu dariku semua itu sudah ada dalam hatinya setiap manusia, sebab itu orang-orang muda harus sering bertanya jangan malu kelihatan bodohnya, dari bodoh pintar bermula, rajin-rajinlah mencari ilmu untuk memperkuat diri. Karena pengetahuan tentang ajaranku ini tak akan turun tanpa membebaskan dirimu dari kemalasan dan kebodohan.”
“Janganlah lalai dari puja trisandhya (doa pertemuan pagi, siang dan malam) janganlah berhenti pujastuti kepada Sanghyang Widhi, agar terjaga pikiran dan hatimu itu dengan kepandaian dan kebajikan dari-Nya. Hanya kedisplinan pada puja trisandhya, yang bisa memelihara ajaran kepandaianku tetap dalam anugerah-Nya“ Anak muda itu mengangguk berulang-kali penuh semangat.
“Peganglah ajaranku ini anakku, Sanghyang Widhi sudah menganugerahi kita semua dengan rasa ajaib penuh rahasia, yaitu ada pada manas (pikiran), buddhi (akal kecerdasan), indriya (panca indera), sarira (badan) dan atma-mu (sukma) itu. Oleh karena itu kerjakanlah nitya-jnana (pengetahuan abadi) dengan kebajikan itu siang dan malam, agar dapat bertemu dengan-Nya (sifat-sifat-Nya) yang tak dapat dipakai dengan kepandaian pikiran belaka, yang begini bila tercapai, maka sesungguhnya engkau adalah siswa yang telah berguru pada-Nya dan bahkan pula, terbayarkan hutang-hutangmu kepada kedua orangtuamu, terutama ibu yang melahirkan dan menjagamu” Ucap Dewi Saraswati penuh keibuan.
Dewi Saraswatipun semakin mendekatkan dirinya pada anak muda itu, dibelailah kepalanya dengan kasih sayangnya, laksana ibunda pertiwi dengan ananda kesatrianya.
“Anakku, mencapai ilmu kepandaian yang tinggi tidak ada jalan lain kecuali berlaku sabar, sebagaimana engkau mencapai puncak gunung tidak dengan tergesa-gesa, bulan pun bertambah besar sedikit demi sedikit untuk menerangi bumi, pohon beringin pun berasal dari benih yang sangat kecil dan tidak tumbuh besar seketika, ringkasnya jagalah kepandaianmu hingga menjadi tinggi dengan benih-benih kebajikan saja, yang demikian akhirnya menjadi sempurna, tidak ada yang kurang apalagi hilang (abadi).”
“Turunlah engkau dari puncak gunung, kembalilah memulai hidupmu menjadi siswa yang tekun, patuhlah pada kedua orang tuamu juga gurumu, pelajarilah ilmu kepandaian dengan kebajikan dan kesabaran, niscaya engkau akan menjadi siswa yang berguna bagi nusa dan bangsa, senang hati Sanghyang Widhi menganugerahimu, kelak kamu akan menjadi siswa yang kaya raya dalam dharma, senantiasa berhasil dalam segala cita-cita.”
Anak muda itu senang hatinya, berterima kasih dan berpamit mohon diri, perlahan menuruni bebatuan yang curam dari ketinggian gunung Agung. Beriringan dengan widadari kahyangan, mengiringi Dewi Saraswati melanjutkan darmayatra, meninjau pura-pura luhur sad kahyangan dipulau seribu pura, memberikan restu dan menganugerahi ilmu-ilmu kepandaiannya pada semua umat dengan senyum dan penuh kasih, di perayaan saraswati yang membahagiakan.
Anak muda itupun berjalan ceria, menuai harapan dari kejauhan, seandainya orang-orang cendikiawan, guru dan pemimpin bangsa ini, tak berharap tanda jasa, sepi dalam pamrih, sadar mengabadikan ajaran kepandaian pada dirinya, mengutamakan ilmu untuk kebajikan bukan untuk keangkuhan, kekuasaan dan kekayaan semata.
Tentunya akan banyak generasi muda menjadi siswa yang disiplin, patuh dan tekun menimba ilmu pengetahuan dengan kebajikan, sadar pada masa depannya bersama membawa negeri nusantara tercinta ini, lepas dari kemerosotan moral dan korupsi yang membudaya generasi ke generasi.
Rahayu,Indraprabudjati 24022010
Pagi ini, saniscara umanis, watugunung, tanggal empat belas sasih kasanga 1931 saka, adalah hari perayaan Saraswati, umat di seluruh pelosok Bali dan nusantara tengah bersiap-siap melakukan persembahyangan bersama.
Saat pagi menjelang inilah, Dewi Saraswati berhasrat akan turun ke Bali, dirinyapun bersiap keluar dari istana swargaloka di kahyangan nusantara. Ia disambut widadari kahyangan penuh kehormatan. Dewi Saraswati adalah permaisuri Dewa Brahma, dewi ilmu pengetahuan, kedamaian, seni, musik dan kearifan. Dirinya dilukiskan sedang memegang buku perwujudan pengetahuan Sanghyang Widhi dan alat musik yang mengalunkan nada-nada tembang kebijaksanaan tertinggi, bersama bangau putih, kendaraannya yang setia menemaninya kemana saja.
Setelah mendapat restu dari Dewa Brahma, terbanglah dirinya menaiki burung bangau dan ditemani belasan widadari pengiringnya. Ketika baru turun dari kahyangan, melihatlah dirinya ke gunung agung, tepatnya di puncak kori agung, tampak kejauhan anak muda seorang diri sedang bersemadhi, dihadapan sebuah pelinggih Sanghyang Tunggal yang teramat sederhana, gugusannya terbuat dari batu merah, tersusun bagai meru bertumpang sebelas dan bertedung putih dan kuning. Turunlah dirinya, dihadapan anak muda yang tengah bersikap amustikara itu, terperanjatlah dirinya, lalu bergegas mencakup kedua telapak tangannya, berucap salam padanya. Rasa kagum Dewi Saraswati pada anak muda itu, teguh seorang diri, bersemadhi dipuncak gunung pada perayaan turunnya beliau ke bumi. Sangat jarang didapatnya, anak muda yang bertekad kuat memiliki keinginan berilmu darinya, yang tulus bersusah payah mencapai puncak gunung dan bersemadhi seorang diri.
Dewi Saraswatipun bertanya padanya, gerangan apa yang anak muda itu inginkan, dalam pertapaannya di kedinginan gunung agung seorang diri. Pemuda itu mengatakan pada Dewi bahwa dirinya tengah bersemadhi, menunggu Dewi Saraswati turun dari kahyangan pada perayaan Saraswati nanti, karena dirinya sangat memohon anugerah ilmu darinya, kelak ingin mengabadikan sinar ajaran kepandaian Dewi Saraswati sebagai seorang siswa yang berguna.
Lalu sang Dewi pun mengabulkan permohonannya, dirinyapun memberikan pelajaran pada anak muda itu tentang ilmu menjadi guru bagi dirinya sendiri, sekaligus menjadi seorang siswa adhikari, tuntunan mennjadi seorang umat muda dengan spiritual yang baik, mampu menahan dirinya dari perbuatan buruk dan terus mengembangkan sifat-sifat Sanghyang Widhi kedalam dirinya.
“Sebaiknya diingat-ingat nasihatku ini, dirimu yang berhati teduh, bening dan berbudi mulia, sabar dan cerdas dalam segala sesuatu. Tak mau lupa diri, hingga masih senang ingin mendapat ilmu dariku. Mantapkan hati kedalam kebajikan, dan pesanku padamu, bersyukurlah dengan penerimaanmu, kepandaian akan ilmu dariku semua itu sudah ada dalam hatinya setiap manusia, sebab itu orang-orang muda harus sering bertanya jangan malu kelihatan bodohnya, dari bodoh pintar bermula, rajin-rajinlah mencari ilmu untuk memperkuat diri. Karena pengetahuan tentang ajaranku ini tak akan turun tanpa membebaskan dirimu dari kemalasan dan kebodohan.”
“Janganlah lalai dari puja trisandhya (doa pertemuan pagi, siang dan malam) janganlah berhenti pujastuti kepada Sanghyang Widhi, agar terjaga pikiran dan hatimu itu dengan kepandaian dan kebajikan dari-Nya. Hanya kedisplinan pada puja trisandhya, yang bisa memelihara ajaran kepandaianku tetap dalam anugerah-Nya“ Anak muda itu mengangguk berulang-kali penuh semangat.
“Peganglah ajaranku ini anakku, Sanghyang Widhi sudah menganugerahi kita semua dengan rasa ajaib penuh rahasia, yaitu ada pada manas (pikiran), buddhi (akal kecerdasan), indriya (panca indera), sarira (badan) dan atma-mu (sukma) itu. Oleh karena itu kerjakanlah nitya-jnana (pengetahuan abadi) dengan kebajikan itu siang dan malam, agar dapat bertemu dengan-Nya (sifat-sifat-Nya) yang tak dapat dipakai dengan kepandaian pikiran belaka, yang begini bila tercapai, maka sesungguhnya engkau adalah siswa yang telah berguru pada-Nya dan bahkan pula, terbayarkan hutang-hutangmu kepada kedua orangtuamu, terutama ibu yang melahirkan dan menjagamu” Ucap Dewi Saraswati penuh keibuan.
Dewi Saraswatipun semakin mendekatkan dirinya pada anak muda itu, dibelailah kepalanya dengan kasih sayangnya, laksana ibunda pertiwi dengan ananda kesatrianya.
“Anakku, mencapai ilmu kepandaian yang tinggi tidak ada jalan lain kecuali berlaku sabar, sebagaimana engkau mencapai puncak gunung tidak dengan tergesa-gesa, bulan pun bertambah besar sedikit demi sedikit untuk menerangi bumi, pohon beringin pun berasal dari benih yang sangat kecil dan tidak tumbuh besar seketika, ringkasnya jagalah kepandaianmu hingga menjadi tinggi dengan benih-benih kebajikan saja, yang demikian akhirnya menjadi sempurna, tidak ada yang kurang apalagi hilang (abadi).”
“Turunlah engkau dari puncak gunung, kembalilah memulai hidupmu menjadi siswa yang tekun, patuhlah pada kedua orang tuamu juga gurumu, pelajarilah ilmu kepandaian dengan kebajikan dan kesabaran, niscaya engkau akan menjadi siswa yang berguna bagi nusa dan bangsa, senang hati Sanghyang Widhi menganugerahimu, kelak kamu akan menjadi siswa yang kaya raya dalam dharma, senantiasa berhasil dalam segala cita-cita.”
Anak muda itu senang hatinya, berterima kasih dan berpamit mohon diri, perlahan menuruni bebatuan yang curam dari ketinggian gunung Agung. Beriringan dengan widadari kahyangan, mengiringi Dewi Saraswati melanjutkan darmayatra, meninjau pura-pura luhur sad kahyangan dipulau seribu pura, memberikan restu dan menganugerahi ilmu-ilmu kepandaiannya pada semua umat dengan senyum dan penuh kasih, di perayaan saraswati yang membahagiakan.
Anak muda itupun berjalan ceria, menuai harapan dari kejauhan, seandainya orang-orang cendikiawan, guru dan pemimpin bangsa ini, tak berharap tanda jasa, sepi dalam pamrih, sadar mengabadikan ajaran kepandaian pada dirinya, mengutamakan ilmu untuk kebajikan bukan untuk keangkuhan, kekuasaan dan kekayaan semata.
Tentunya akan banyak generasi muda menjadi siswa yang disiplin, patuh dan tekun menimba ilmu pengetahuan dengan kebajikan, sadar pada masa depannya bersama membawa negeri nusantara tercinta ini, lepas dari kemerosotan moral dan korupsi yang membudaya generasi ke generasi.
Rahayu,Indraprabudjati 24022010
Langganan:
Postingan (Atom)
Arsip Blog
-
▼
2011
(52)
-
▼
Desember
(26)
- Dharmasastra
- Rindukan Sosok Danghyang Nirartha Dijaman Sekarang
- Misteri Ajaran Padmasana Danghyang Nirartha
- Dharma Melepas Ikatan Kesulitan Hidup
- Tawur Agung Ekadasa Rudra 1963
- Tawur Agung Pancawalikrama 2009
- Candi Sukuh-Karanganyar
- Candi Cetho-Karanganyar
- Banyaknya Nama Tuhan
- Lawanlah Keangkuhanmu
- Menerima Apapun Pemberian-Nya
- Anugerah Sebuah Kejujuran
- Kebersamaan
- Kebahagiaan Berawal Dari Kejujuran
- Mohon Karunia Cinta Dalam Dharma
- Doa Mohon Perbaikan Karma
- Aksara OM - Memuja Brahman
- Mantram Dewa Wisnu
- Pemujaan Pura Banua Kawan - Besakih
- Awali Tahun Baru Dengan Trikaya Parisudha
- Doa Kepada Ibu Pertiwi
- Memotong Kebiasaan Tak Berguna
- Perayaan Hari Saraswati
- Karunia Alam Gunung Agung
- Halangan Hidup Dalam Diri Sendiri
- Tuntunan Memulai Berdoa
-
▼
Desember
(26)