SHDN_LOGIP

SHDN-2012

SHDN-2012
Tampilkan postingan dengan label Topik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Topik. Tampilkan semua postingan

20 Des 2011

Rindukan Sosok Danghyang Nirartha Dijaman Sekarang


Tersebutlah Danghyang Palah.
Berbadan kurus namun tinggi kulitnya hitam legam. Memakai jubah putih. Rambutnya digelung hingga ubun-ubun. Dahinya digaris kapur sirih. Sambil membawa tongkat trisula, perlahan mendekat Mpu Dwijendra, di pelataran candi yang seluruh tubuh candinya dililit oleh naga, didukung sembilan tokoh arca membawa genta juga relief kura-kura yang diatasnya menanggung puncak gunung Mahameru.

“Dwijendra….beranjaklah ke timur hingga ke timur Bali. Carilah guha (goa) dengan naga yang terjaga. Ratusan tahun lalu, Pertapa suci silih berganti menujunya. Namun hanya Danghyang Kuturan melampaui naga yang dijinaknya. Mendapat Wahyu mulia sesudahnya. Lampauilah lagi naganya. Kelak kan ada Wahyu untukmu.” Seketika Danghyang Palah percikkan tirta disekujur Mpu Dwijendra. Tanda restu memberkati perjalanannya kelak. Telah berlama masiwa hingga manabhe dengan dirinya.

“Mara den turuta… jangan lupakan amanah Paduka Batara Palah. Sebar Wedhatama hingga keturunan-keturunannya di Bedahulu, Silakyuti hingga ke Gurun. Hanya disanalah Siwa dan Budha bercahya”. Tutur Guruaji, sebutan Danghyang Palah (Danghyang Panataran) yang telah mendiksanya.

“Singgih Guruaji..pun pinangkani” ucap Mpu Dwijendra. Tak dinyana menitikkan airmata dijubahnya. Bergegas meninggalkan Candi Palah (Candi Panataran, sekarang). Candi kemandalaan terluas di Jawa. Adanya di Rabut Palah (Di Blitar, sekarang). Telah berdiri megah di jaman Khadiri (prasasti saka 1119, Sri Prabu Srengga Kertajaya). Dirinya pun berjalan sepanjang hari hingga tiba di Gurun (daratan Lombok hingga Sumbawa).

Mpu Dwijendra itulah Danghyang Nirartha. Beliau dianggap sebagai pendeta besar yang fenomenal. Dipercaya masyarakat Hindu di Bali menyebarluaskan pengetahuan tata cara agama yang aplikatif. Watak sang Brahmana yang rendah hati tetapi juga keras dan tegas membuat ketentraman agar damai. Kematian dalam moksanya seakan telah mengakiri konsep Danghyang fenomenal dalam tradisi tokoh besar zaman Hindu Jawa juga Bali. Namun konsep pengabdian dan pemikiran Danghyang Nirartha di jaman sekarang tetaplah diperlukan demi perkembangan keagamaan.

Seseorang yang telah bergelar Danghyang sangat dikeramatkan dan dapat dikatakan bahwa gelarnya tergantung atas Wahyu, tidak bisa dicapai hanya dengan usaha manusia semata. Danghyang harus memiliki kemampuan nawungkridha (kewaskitaan) dan mengetahui rahasia keselarasan jasmani rohani dengan ketajaman pandangan batinnya. Sehingga selain sebagai pendeta utama yang mahir beragama, menjadi pemimpin umat yang memiliki pemikiran tajam (sambegana), menguasai liku-liku segala masalah umat dan apa yang dipikirkan, diucapkan dan diperbuat (trikaya) adalah “pasti” (benar, menjadi kenyataan dan relevan sepanjang jaman). Sehingga seorang Danghyang adalah panutan, tak hanya bagi umat tetapi juga pemerintahan.

Pengembaraan Danghyang Nirartha, dipandang sebagai bentuk perjalanan suci (dharmayatra). menyusuri perjalanan mistik (napak tilas) melalui jalan yang umum dilakukan seperti halnya yang dilakukan oleh para pengembara (sufi). Perjalanan mistiknya dilakukan dengan menggunakan penunjuk jalan. Penunjuk jalannya adalah kekuatan diri yang akan membawanya untuk mencari kemanunggalan. Berbagai tahap (dwija kebatinan) dijalankan hingga mencapai tujuan akhir bersatu dengan Sang Brahman.
Begitulah Tahap akhir. Tersingkapnya rahasia terdalam antara hamba dengan Tuhan. Versi tentang kematiannya yang secara umum dikalangan umat adalah moksanya di karang perbukitan pura Uluwatu. Danghyang Nirartha, dalam perjalanannya adalah wujud totalitas jiwa pengabdian, mendidik umat dengan kepandaian wacananya dan penyadaran umat terhadap berbagai persoalan.

Kita ingin menguak ajaran yang melandasi jalan pemikiran yang ditempuhnya. Kini saatnya tugas umat, mengamanatkannya menjadi jati diri tradisi dan budaya di jaman sekarang yang lebih aplikatif agar tidak kebablasan atau terhempas modernisasi.

Karena itu sepantasnya kita mau terus berusaha mengambil tauladan pengabdian Danghyang Nirartha. Sebagaimana melampaui sang naga penjaga di goa bukit Mpulaki (dalam Samadhi mencapai hening). Samadhinya meraih Wahyu mendirikan dan menegakkan Padmasana. Wahyu yang menandakan dirinya telah mantap kepada Brahman, hanya mengabdi dan tunduk pada Maha Kebenaran. Padmasana, baginya adalah titah Candi Palah (inspirasi baginya) untuk mendirikan dan menegakkan kebenaran. Meneruskan historis Silayukti (inspirasi bagi Danghyang Kuturan) yang lebih dahulu membangun peradaban kebenaran kepada semua keturunan. Keturunan yang setia pada Siwa – Budha, yang kini nyata menyinari pulau Dewata.

Kita merindukan sosok Danghyang Nirartha dijaman sekarang, yang patut dipuji mempraktikkan pengabdiannya dengan membaur diantara manusia biasa tanpa memandang Warna atau Kasta, apalagi kaya atau miskin, Universalis dalam perbedaan agama. Tidak terpengaruh politik dan kekuasaan. Bertanggung jawab untuk pendidikan umat dan generasi mudanya dengan tidak menutup sebelah mata terhadap berbagai penyimpangan di pura (kita sudah teramat tahu dengan penyimpangan yang terjadi sekarang).

Rahayu, rahayu, rahayu. (IP)

Misteri Ajaran Padmasana Danghyang Nirartha


“Apakah Sang Empu seorang pandita dari Majapahit?” Tanya Paduka Dalem Waturenggong.

“Benar Paduka Dalem, beliau keturunan Danghyang Smaranatha yang juga keturunan Empu Bharadah” ucap Kiyai Dauh beberapa bulan sebelum diperintahkan Paduka Dalem menjemput Danghyang Nirartha ke desa Mas dan mengundang singgah ke istananya.

“Keturunannya Danghyang Smaranatha? Sungguhkah? Bagaimana rupanya?” Lagi Paduka Dalem Waturenggong tertarik lebih mendalam.

“Beliau bertutur kata, setelah belajar lama di Rabut Palah, dirinya pun memiliki titah Candi Palah memperbaiki perkembangan agama, juga bercita-cita mengubah pemujaan siwa dari arca-arca dan mandir dengan menambah Padmasana didalam sanggah pemrajan juga di pura-pura lainnya, Padmasana digunakan untuk memuja Sanghyang Widhi Wasa”

“Apa itu Padmasana? Apakah sama dengan Lingga-Yoni yang ditanah Jawa?” Tanyanya lagi

“Menurut tuturan dari orang-orang di Gading Wangi, Sang Empu berucap bahwa Padmasana bukanlah sebuah bongkahan batu, arca atau mandir yang digunakan banyak orang dalam manembah. Adalah plinggih suci untuk men-stana-kan Sanghyang Widhi Wasa sebagai simbolis Buwana Agung, sehingga kedudukannya dapat memperjelas antara plinggih pemujaan untuk keberadaan Sanghyang Widhi Wasa dan plinggih untuk roh suci leluhur.
Serupa tugu meninggi berbentuk kursi kosong yang disamakan dengan tahta tertinggi simbolisme Tuhan yang tak berwujud, juga kekuasaan-Nya yang tak dapat dibatasi, karenanya dimaknai kosong (tanpa wujud) dan tak terlihat (tanpa batas). Kegunaannya adalah merupakan pancaran semua aura cahaya suci dan mulia, membangkitkan kesadaran tertinggi untuk memuja-Nya secara utuh, artinya hanya Padmasanalah yang dipuja tertinggi dibanding tugu, gedong, arca maupun mandir apapun. Begitulah yang hamba ketahui, Paduka” jelas Kiyai Dauh.

Ketika berada di Bukit Mpulaki, Sang Empu mengingat apa yang telah dititahkan Danghyang Palah silam mencari goa yang dimaksudkannya untuk mendapatkan wahyu yang akan diembannya kelak. “Irika guha ta dunung kang tinuju…”gumamnya.

Bertemulah dirinya dengan sebuah goa yang teramat sunyi, beliau masuk hingga kedalamnya dan terhuyung diantara tanah berlumpur kotoran kelelawar, hingga wajah dan badannya kehitaman seakan tertutup lumpur, tak kuasa bangun hingga langsung tak sadarkan diri. Selama beliau tak sadarkan diri, merasakan dimimpikan bertemu seekor naga besar yang membukakan mulutnya, sehingga dirinya masuk kedalam mulutnya dan berjalan keujung lidahnya, terlihatlah sebuah bayangan cahya putih yang menyebabkan beliau terkesima, dilihatnya cahya itu seakan menyerupai sekuntum bunga kumuda (teratai putih) yang sangat rupawan memikat hatinya, seakan cahya putih yang datang dari Yang Maha Pencipta.

Seketika terbangun dirinya, kembali menelusuri dalamnya goa hingga bermuara pada gumuk lebar menganga dan bermata air ditengahnya. Dirinya terantuk kedalam sumber air dan jatuh terduduk ditengah hingga lagi tak kuasa bangun. Lalu sekonyong mengambil sikap tangan seperti bunga kumuda hingga bersamadhi mencapai hening. Pancaran dalam mimpi sebelumnya laksana menjadi nyata dalam heningnya, bunga kumuda memperlambang keberadaan Hyang Widhi telah menyatu didalam dirinya sendiri. Itulah Atman yang bercahyakan Brahman.

Sang Empu menyatakan hanya butuh sikap sederhana untuk mencapai perwujudan-Nya dalam cahya yang menyinari jiwa kita sendiri, mengikis adharma dan mempertebal dharma dalam diri. Cukuplah sudah kita mengambil banyak simbolisme atau paham-paham yang membuat kita melebar jauh dalam tradisi beragama, sehingga keberadaan-Nya yang Maha Utama tertutupi oleh berbagai pemujaan (ritual) manifestasi-Nya. Kelak anak-cucu kita akan lebih meyakini manifestasi-Nya (memperkaya ritual dan persembahannya) ketimbang merasakan adanya Brahman dalam diri (memperkaya budhi, tatwa dan susilanya).

Begitulah penuturan Danghyang Nirartha akan pentingnya mengutamakan pemujaan kepada Sanghyang Widhi Wasa. Dengan tanpa menenggelamkan tradisi adat yang sudah mengagamakan umat Hindu di Jawa maupun di Bali. Beliau justru terus berusaha menyederhanakan tradisi adat menjadi lebih mengutamakan perannya untuk memperkaya rasa rumangsa kita pada Batara Sinuhun Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa) melalui adanya Padmasana.

Seakan dirinya berisyarat “Mana yang didahulukan? Persembahan apapun, hendaknya IA yang diutamakan”. Dengan demikian kita tak akan pernah melenceng dari-Nya.

Paduka Dalem Waturenggong turut menyadarkan dirinya sendiri pada pandangan sang guru Danghyang Nirartha, tegas mengelak bila roh dalam kematiannya nanti distanakan layaknya dewa sebagaimana tradisi kematian raja-raja di Singasari maupun Majapahit, karena Padmasana yang diajarkan padanya telah mempertebal keyakinan dirinya terhadap adanya kekuasaan yang lebih tinggi dari hanya seorang keturunan raja bahkan leluhur yang telah didewakan.

“ Iti aran Padmasana yeku Sang Hyang Widhi Wasa apan sedhengah akang gumelar tan hana kang kawawa endha denira” ujarnya mantap menyatakan sebutan Padmasana sebagai simbolisme Tuhan Yang Maha Kuasa, sebab segala apapun yang terhampar dibumi ini tidak akan terlepas dari hukum-Nya.

Kehadiran Danghyang Nirartha ratusan tahun silam, mutlak kita pertajam ajaran konsep pemikirannya tentang Padmasana, mutlak rasanya diwacanakan dan didharmakan umat Hindu Nusantara. Dan kini Padmasana sudah ada dimana-mana, bukti kita sudah melakukan sembah rasa bhakti pada-Sang Hyang Widhi Wasa dan mengisyaratkan keberadaan-Nya yang dekat dengan kita, dirumah kita dan didalam diri kita sendiri.

“Ajwa salah panampa sun prapta arsa bineneraken lakunira ikang sasar mogha walik dadi hayu labda smirta ika” (Janganlah salah arti, saya datang justru akan meluruskan perbuatanmu yang keliru semoga dapat kembali sadar dan baik) ungkapan tegas Danghyang Nirartha wujud wahyu Yang Maha Kuasa, mengabarkan umat tentang kemurnian meyakini keberadaan Roh-Nya yang mutlak juga tunggal tanpa dikaitkan nama-nama manifestasi apapun dan diutamakan juga didahulukan dari persembahan dan pemujaan apapun.

Meski Diri-Nya adalah Mahadewa sebagaimana Brahma, Wisnu dan Siwa tetaplah kesatuan bagi-Nya dan tunggal pengertiannya dalam wujud Padmasana (singgasana Sang Buwana Agung). Ini menegaskan tiada perbedaan bagi-Nya apalagi perbedaan nama dewa, sekte, warna atau kasta yang dianut manusia sendiri adalah sama (tiada yang dibedakan) dihadapan Padmasana-Nya.

Oleh karenanya Padmasana bukan diklaim untuk manifestasi-Nya, karena kursi-Nya (tahta kekuasaan-Nya) bukan untuk diduduki manifestasi-Nya. Padmasana ditujukan untuk keberadaan yang realitas Ada (kursi-Nya) Hyang Brahman yang menginspirasi berbagai manifestasi.

Hanya kita saja bagai tak pernah menyadari bahwasanya (Padmasana yang berdiri tegak dirumahnya) ada didalam diri kita sendiri, begitulah misteri piwulang padmasana (Hyang Brahman) bersembunyi dalam jiwa kita mengujinya’.

Rahayu, Rahayu, Rahayu.
Indra Prabudjati - tulisan ini pernah dimuat di Majalah Raditya dan Majalah Pasek (SHDN)

18 Des 2011

Karunia Alam Gunung Agung


Om Swastyastu,
Dari setiap perjalanan pendakian ke Gunung Agung yang tidak terasa lebih dari belasan kali pendakian baik bersama teman, berdua saja, atau bahkan seorang diri saja, dengan mengikuti beberapa jalur yang berbeda, baik dari jalur Pura Pengubengan, lalu jalur Pura Kiduling Kreteg hingga Embung, kemudian jalur Pura Payasan di Temukus dan jalur Pura Pasar Agung di Selat. Beberapa hari setelahnya, saya menyadari berkali-kali lagi, seakan Gunung Agung menginspirasikan saya harus sekali lagi dan berkali-kali lagi menegaskan diri saya sendiri. Saya ataupun kita nyatanya selalu diminta menjadi lebih sadar lagi untuk memahami segala sesuatu akan tantangan alam; api, tanah, udara dan air. Betapa selama ini hanya sedikit kita mempelajari dari kemauan untuk memahami perbedaan dan persamaan antara kita dan Alam semesta secara nyata, murni dan bernaluriah.

Bagaimana kita melihat daerah hutan lebat yang menyimpan berbagai misteri habitatnya. Semisalnya kita berada disana, bagaimana seharusnya kita bisa tangguh hidup didalam hutan selebat itu atau seandainya bagaimana kita seharusnya menemukan jalan keluar dari dalam hutan yang lebat tanpa harus tersesat. Kegelapan dan kesunyian hutan hingga berdiri diketinggian lereng puncak gunung, seringkali membawa kita pada pikiran dan perasaan kecemasan, ketakutan dan ketidakmampuan atau sebaliknya membawa kesombongan seakan telah menaklukan alam yang kita lalui dengan keangkuhan pikiran yang kita pertahankan.

Disinilah ketegasan yang diminta dari Alam itu, ketegasan kita menghadapi dengan keseimbangan antara kita dan jiwa kita sendiri, karenanya hal ini semakin membuka diri kita untuk membuat keseimbangan perbedaan didalam diri kita sendiri, Hyang Widhi didalam diri dan diri kita sendiri. Alam menyarankan kebijaksanaanya pada kita untuk memahami Alam dengan ketegasan atas keyakinan kita pada Pencipta-Nya, yang justru Diri-Nya berada didalam diri kita sendiri. Dengan demikian kehadiran Alam Semesta bagi kita adalah untuk dapat menikmati suguhan-suguhan Pencipta-Nya dengan kesadaran kemuliaan-Nya bukan dinikmati untuk kesenangan duniawi dan mengkhianati Pencipta-Nya menjadikan Alam adalah budak nafsunya.

Padahal Alam itu dinyatakan sama dengan perumpamaan Diri-Nya, karena dari adanya Alam kita bisa mengambil dan menerima semua limpahan karunia dari-Nya. Dimulai dari cara panadang yang sederhana, kelahiran yang memerlukan perlindungan, tempat tinggal, makanan dan obat-obatan, Kehidupan yang menginginkan hasil dan kelimpahan rejeki dan kematian yang memerlukan tempat terbaik untuk menyimpan atau memusnahkan raganya, dansebagainya.

Tentu saja yang saya mohonkan melakukan perjalanan melewati hutan yang lebat hingga diketinggian gunung, bukan sebagai kehendak diri menaklukan alam, tetapi diri ini sendiri dengan perhitungan yang lebih mawas, cerdas dan bijaksana. Sejauh mana kita bisa berdiri dan berjalan disana sama dengan sebagaimana kita mengamalkan swadharma dalam ajaran trikaya; niat, pikiran dan perbuatan. Kita sudah sepantasnya untuk merasakan kesucian dan kesungguhan Hyang Widhi didalam tubuh kita, memberikan renungan, pencerahan dan keyakinan untuk selalu melihat, mendengar dan menggerakkan drinya sendiri dalam setiap hari-hari perjalanan hidupnya, selalu atas berkat karunia dan cinta-Nya.

Hanyalah kemasabodohan, kemalasan, ketakutan, kesombongan yang akan memisahkan kita dari ketemtraman dalam diri sendiri bersama-Nya yang selalu mencintai kita. Hal ini menegaskan kita pada apa yang sering kita ucapkan Astungkara atau OM Awighnamastu, yang mengajarkan kita untuk memahami ucapan selalu memohon tiada halangan bagi kita atas karunia-Nya.

Tanpa disadari cerminan dari semua itu nyatanya adalah kehidupan kita yang selama ini kita jalankan. Alam yang kita lalui adalah pelajaran yang sangat berharga, tak dapat kita pelajari hanya membaca dari buku tanpa dialami sendiri. Sama dengan cara pandang hidup yang hanya memusatkan tindakan demi kepentingan diri sendiri, tidak membiasakan diri menerima pemikiran dan kebutuhan orang lain. Karena dengan mengenal kebutuhan orang lain, Alam dan sekitarnya, maka kita justru diarahkan untuk lebih dekat dan lebih dekat lagi mengenal Hyang Widhi dengan mengalir dalam tubuh kita sangat alami.

Maka kita akan terus menerima kelahiran-kelahiran baru dari kedewasaan diri kita sendiri, menerima anugerah-anugerah-Nya setiap waktu, ini sangat kita perlukan untuk melengkapi keterbatasan kita melakukan perjalanan dengan kemampuan bertanggung jawab lebih serta menemui setiap tantangan tanpa harus terbebani.

Begitulah memanunggalkan diri kita dengan Tuhan pencipta yang sebenarnya. Bukan dengan berpikir keras mengikuti ajaran dari berbagai pemahaman tentang kemanunggalan, karena inti dari ajaran itu adalah kealamian rasa tanpa dipaksa, sehingga ada kesadaran dan ketegasan, untuk selalu belajar menyadari dan menegaskan diri lagi. Adanya pendewasaan kecakapan untuk menjadi diri sendiri melakukan perjalanan hidup ditengah-tengah antara Tuhan dan Alam Semestanya, tanpa mendahului atau didahului. Tetap ditengah, seimbang dan berjalan bersama-Nya. Rahayu, Salam Dharma!(IP181212)

17 Sep 2011

Catatan Dibuang Sayang

KERELAAN HATI
Kerelaan itu keutamaan hati
Sadarilah kerelaan itu
Tanpa merasa terpaksa
Menanamkan kejujuran
Membuka pintu maaf
Menikmati hidup semestinya
Menjiwai kehendak-Nya (IP)

STOP COMPLAINING
Sahabat sedharma
Keluhan menumpuk dimana-mana
Jangan hanya menunggu dan menerima
Berbuatlah sesuatu, inspirasi dan kreasi
Kelak bisa membeli juga memberi
Menghidupi sendiri tanpa mengeluh lagi (IP)

2014 WAKTUMU MEMIMPIN!
Bangkitlah negeri ini
Sirami lagi dgn kejujuran
Perjuangan harus ada hasil
Jangan terhenti aji mumpung
Mulailah jujur dikita sendiri
Lakukan atau cuma harapan
2014 waktumu memimpin! (IP)

SAKIT DAN KESAL
Saat ini adalah penyembuhan diri
Melihat apapun sinis dan pesimis
Terlalu banyak dengar cacian
Akupun latah memaki siapapun
Ya Tuhan, maafkan hamba yg tersesat
Dijalan kesakitan dan penyesalan
Larut dalam frustasi kehidupan (IP)

SENANGNYA BERGOSIP SUSAHNYA BERDHARMA
Mendengar ajaran dharma selalu dinanti
Tapi gossip selalu ingin dicari
Aduuh diriku yang mudah dirayu
Senangnya bergosip tanpa diundang
Tapi jika berDharma harus diundang! (IP)

SUDAH NAIK LUPA TURUN
Diketinggian...Begitu banyak kesenangan tapi juga banyak cobaan.
Kemenangan yg dipertaruhkan, bisa dipertahankan atau dijatuhkan.
Baiknya ikuti kehendak-Nya.
Diatas pada waktunya lalu turun sebelum waktunya.
Begitulah pemimpin seharusnya.
Tak baik paksakan terus berkuasa. (IP)

KEBAIKAN DATANG DARI SIAPA SAJA
Yg suka kata-kata Dharma
Dan terinspirasi maknanya
Diresapi hati & perbuatan
Berterimakasihlah pada dirimu yg mau berbuat
Semoga jgn dicari wajah penulisnya
Bisa-bisa menunda niat buat baik
Kalau dikira kebaikan harus dr yg suci
Penulis bukan orang suci.
Sama-sama belajar Dharma
Juga belajar bersedekah meski kata-kata
Semoga kebaikan dtng dr sgla penjuru..(IP)

TETAPLAH SEIMBANG
Datang dan pergi, muncul dan hilang,
Semua seperti nyaris, mirip dgn mimpi
Baiknya kita ditengah dan harus tetap ditengah,
Agar mawas dan pandai membawa diri
Menghindar dari kesalahan berulang
Apalagi terbuai dari kebaikan, baiknya SEIMBANG
Bijak membuat keseimbangan tidak menjadikan timbangan
Apalagi suka ditimbang-timbang (IP)

CEMAS DISAAT TIDUR
Sahabat sedharma,
Jangan biarkan cemas dibawa tidur
Berdoalah Pada-Nya malam ini
Meski sudah terlanjur berbaring
Pasti esok dimudahkan oleh-Nya (IP)


WHEN BAD THINGS HAPPEN TO GOOD PEOPLE
Hanya demi kepintaran
Merasa sudah lebih pintar
Padahal Kebodohan ditunjukkan
Malahan Kepandaian disembunyikan
Supaya dirinya yang punya nama
Semua diratakan tanpa nama
Tersenyum tapi congkak

2 Sep 2011

Seorang Mahatma Gandhi

Adalah seorang pertapa yang mengekang dirinya kedalam kehidupan praktis bukan menghabiskan moksanya dikesendirian hingga menyempurnakan dan mengosongkan dirinya dengan kematian yang sudah diyakininya berujung pada upaya pembunuhan dirinya oleh orang lain.

Ia tidaklah menghindar tetapi justru mengosongkan dirinya dari ketakutan dan kebencian, ia merasa yakin bahwa kesederhanaan dan kekosongan (tanpa pamrih) adalah cara moksa yang terbaik, membebaskan jiwa dari kebelengguan karma buruk dan bayang-bayang pamrih menuju dharma.

Dia tinggalkan segala dosa dengan berkorban untuk kesusahan orang lain, tetapi sedikitpun tidak berharap pahala. Maka dirinya kembali ke jiwa semula yang kosong tanpa ada keinginan yang menjadikan karma buruk maupun baik, hanya ketulusan satu-satunya pencapaian kesempurnaan diri menuju kepada-NYA, mencapai perolehan inkarnasi kepada jiwanmukta mencapai anugerah jiwa awatara yang dikehendaki oleh-NYA.
Rahayu, rahayu, rahayu - Indraprabudjati.

17 Agu 2011

Sambut Agustusan


NEGERI YANG MENANGIS
Ada apa dibalik kecemasan negeri
Wajahnya diinjak berkali-kali
Tubuhnya diduduki begitu saja
Seperti jual beli segala cara
Tanpa hak tanpa pasal tanpa malu
Sengsaralah pemuda bila maumu diam
Bangkitlah pemuda bila tekadmu harus (IP)


NEGERI YANG BINGUNG
Jikalau surya menghilang
Pagi tak dapat ditemui
Bangun pagipun bingung
Masih malam atau memang malam
Tak berbeda itulah negeri yg bingung
Tiada sinar yang membangkitkan diri
Baiknya bangkitkan diri sebelum terjadi (IP)


TUNTASKAN!
Sobat Indonesiaku!
Dengan penuh doa dan harapan
Semoga tiada halangan
Bagi reformasi hati nurani
Mengembalikan semua harapan digenggaman
Tuntaskan perjuangan yang terus ditunda-tunda
Karena keserakahan (IP)

Indonesia Kini: Saatnya Pembersihan Karma


Inilah waktunya segala sesuatu yang menjadi adharma harus segera bergulir digantikan yang dharma. Sebagai negeri yang menginjak dewasa, ia menjadi sadar akan tantangan penguni negerinya. Roda takdir tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, namun lebih menunjukkan pada sesuatu yang diperlukan untuk memajukan diri. Terkadang roda takdir bergulir di puncak kejayaan dan dilain waktu mendorong kita terhempas dan tergilas dibawah roda.

Penghuni negeri ini telah mengadili peristiwa-peristiwa tanpa terlebih dahulu memahami persoalannya. Kini penghuni negeri ini justru semakin jauh mengembangkan bahwa setiap suatu keyakinan yang berbeda adalah ancaman dan penyebab tantangan. Negeri yang dibangun dengan embel-embel kebhinekaan secara fisik dan emosi sudah menjadi bekal pertumbuhannya, namun pada gilirannya penghuni negeri ini terlampau jauh meninggalkan ruangan itu.

Emosi penghuni negeri ini sebentar bergolak, lalu sebentar kemudian pulih melambaikan saputangan putih pada negeri ini. Jiwa raga penghuni negeri ini nyatanya mudah letih (sempoyongan) juga mudah sedih (cengeng) karena dikuasai keinginan berbagai cara yang membabi buta, mudah kegemukkan (korupsi) karena keserakahan, mudah kesemutan (anti kritik) karena keangkuhan dan mudah jatuh pingsan (minta kompromi bila ketahuan) karena ketidakjujuran.

Negeri ini mempunyai jalan keluar yang mengalir pada dirinya, namun dia bukan wadah kekuasaan itu, ruangan kekuasaan itu sudah terlalu lama ditinggalkan. Negeri ini yang mau beranjak dewasa menjadi semakin serba rumit untuk mempertahankan sebagaimana keberadaan sekarang ini. Ia terus berupaya memiliki keberanian untuk mencapai kemajuan meski bisa saja sebaliknya ia harus menerima untuk menghadapi perubahan yang datang dengan sangat tiba-tiba dan tak terduga. Nusantara atau Nusa dan Antara, Indonesia atau Indo dan Nesia, seperti Ceko dan Slovakia.

Semoga saja negeri ini mau selalu menerima pembersihan karma dengan meninggalkan semua yang pernah terjadi, itupun bila penghuni negeri secara perlahan mau kembali mundur keruangan semula yang ditinggalkan begitu saja. Menempuh kembali perjalanan kesadaran-kesadaran, duduk diam dan mendengarkan seksama suara hati ibu pertiwi negeri ini.

Semoga akan ada pengadilan akhir secepatnya dari ketidakpastian, setiap penghuni negeri ini harus memperhatikan panggilan ibu pertiwinya, menerima kenyataan bahwa segala sesuatu disemesta negeri ini saling berhubungan. Saatnya membuat suatu perubahan besar dinegeri ini. Semoga saja takdir negeri ini bisa menegaskan betapa pentingnya kita menyadarkan diri, mengendalikan diri juga mempertahankan yang sudah tersedia diruangan negeri ini.

Akhir kata, sahabat muda Hindu senusantara, saatnya kita tuntaskan perjuangan negeri ini dengan kibarkan tekadmu. Kepingan jiwa Arjuna Srikandi nyatanya sudah cukup menjadi bekalmu memimpin negeri ini, ke masa depan, jangan biarkan kesalahan masa lalu dan kini menjadi karma yang berlarut-larut. Pembersihan karma harus dimulai dari sekarang. Satria-satria muda Hndu senusantara harus sebanyak mungkin bisa tampil disegala bidang bahkan birokrat nasional. Dirgahayu negeri kita, Semoga!

Salam Dharma,
SHDN-Indra Prabudjati

15 Agu 2011

Ajaran Merubah Kehidupan Menjadi Lebih Baik

Sahabat sedharma,

Bila saja sepekan ini hidup terasa tiada perubahan, baiknya selalu menilai diri ini dengan positif dan bukan sebaliknya memandang negatif.

Kita pelajari lagi dengan melepas kebiasaan lama dan mencipta kebiasaan baru yang lebih baik lagi. Ajari lagi diri sendiri dgn kematangan seorang dewasa, membuang keyakinan lama akan cara pandang yg mungkin angkuh, memaksa, terlalu pesimis atau slalu diliputi ketidakpercayaan.

Sadarilah, setiap orang harus melewati kesakitan dan penderitaan utk menerimanya sebagai suatu pengalaman berharga bagi pertumbuhan jiwanya dan kedewasaannya sendiri.

Masihkah sahabat sedharma akan menyerah dan seolah selesai sampai disini atau bersemangat untuk melewatinya dan menemukan harapan-harapan baru?

Sahabat sedharma senusantara,
Baiknya hidup dengan sikap sederhana, yang demikian akan mawas juga lebih bijak lagi
Agar dapat menghayati kenyataan hidup lebih mantap melangkah masa depan. Jadikan wujud bhakti pada dharma. Takkan pernah ragu dan banyak salah.

Semoga tiada halangan atas karunia-Nya. Bagimu, orang tua dan siapapun yg kita cintai
OM Awighnamastu..Salam Dharma! (IP)

9 Agu 2011

Pertemuan Mpu Baradah dengan Mpu Kuturan

(Menyambut Piodalan Pr. Silayukti Buda Kliwon Pahang Sasih Karo)

Berangkatlah Mpu Baradah menuju Balidwipa
Berjumpalah dirinya dengan sang pendeta yg teramat teguh hatinya
Di pertapaan Silakyuti, senyap hanya suara ombak yang tak pernah diam
Dijemputlah sang adik seperguruan, yang teramat lelah dalam perjalanannya
Mpu Kuturan, sang kakak nan bijaksana memeluk sang adik yang bersahaja

Keduanya duduk berhadapan disuguhi keladi kukus dan teh jahe merah
Sungguh pertemuan yang mengharukan juga membahagiakan hati
Tak sabar Mpu Kuturan ingin mendengar keadaan di Jawadwipa
Tempat yang ditinggalkannya, mungkin selamanya tak akan pernah kembali
Hati tak dapat menahan diri, ingin mendengar kabar disana

Mpu Baradah pun bercerita diselangi tawa canda, menyenangkan hati sang kakak yang tengah direndam rindu. Setelah usai, mulailah bercakap tentang upacara dan upakara
Saling bertukar ilmu, mencerahkan diri tanpa ada perdebatan, sungguh keduanya bersahaja dan tinggi sastra. Mpu Kuturan berkenan padanya menggelar berbagai perkakas upakara yang sedang dibuat, sungguh takjub Mpu Baradah.

Setengah bulan berjalan di padang silayukti.Tibalah waktunya Mpu Baradah menyampaikan amanat. Amanat Prabhu Airlangga yang hendak mangkat dan meminta nasehat tahta bagi kedua puteranya.

"Sungguh suram rasa hatiku karena membawa beban berat ini kakanda Kuturan" Terhentaklah Mpu Kuturan sambil meletakkan kembali sirih gambir jambe yang hendak dikinang.

"Andaikata baginda hamba meminta hak sebagai putra pertama Uddayana dan menggantikannya sebagai rabhiseka prabhu di Bali, lalu diberikan kepada salah satu puteranya disana"

"Baginda hamba teramatlah risau, puteri mahkota, sang Sri Sanggrama Wijaya tak gubris memangku hakwarisnya, lebih menyukai biksuni daripada seorang ratu. Sedangkan kedua puteranya, sang Samarawijaya dan sang Garasakan pastilah akan saling berebut"

"Maka hendaklah Baginda hamba memohon agar diberikan satu di Jawa dan satu di Bali. Begitulah amanat yang hendak hamba sampaikan, semoga berkenan, tiadalah maksud hamba menyinggung perasaan, hamba ikut menanggung rana Baginda yang akan turun tahta"

Lalu terdiamlah Mpu Baradah menunggu jawaban Mpu Kuturan yang tengah menarik napas panjangnya

"Ingsun kira tidaklah bijaksana, sebab wus titah bathara Balidwipa diperintah Prabu Marakata Uddayana dan sudah ada raja penggantinya kelak. Ingatlah, bahwa kedua putera utama Maharaja Uddayana sudah sama-sama memerintah di Jawa dan di Bali, tak baik bila kelak menimbulkan perang saudara" begitulah jawabannya

Mendengar ucapan bijak Mpu Kuturan, terhentilah percakapan wasiat disitu
Tak santun bila dilanjutkan, dan beranjaklah dirinya mohon pamit diesok pagi kembali ke Jawadwipa.

Lalu terhempaslah sang angin membawa harum bunga kemuning. Meski tetaplah tidak mampu hilangkan rasa risau kedua pandita besar dijamannya. Yang pernah bersama dalam satu perguruan bagai kakak dan adik kandung. Karena hanyalah kakak adik seperguruan dibukit pertapaan Lmahtulis. Berpisahlah Mpu Baradah dipertapaan Silayukti, kembali menghadap Baginda Airlangga di Dhanapura.

Diakhir cerita haru dari amanat yang tak bisa dilaksanakan oleh kedua Mpu raja dijawa dan Bali, Sang Samarawijaya memangku tahta di Panjalu Khadiri, istananya di Dhanapura
Sedangkan, Sang Garasakan memangku tahta di Jenggala Keling, istananya di Surapura
Lalu diBalidwipa, Sang Anak Wungsu menggantikan Sang Marakata, tak ubahnya laksana mendiang Ibunda Ratu Mahendradatta Gunapriya Dharmapatni, selalu sujud bhakti kehadapan Sang Hyang Widhi dan para dewata.

Om sidirastu ya namah Om am Om ya namah Siwaya ya namah Budayo
SHDN-IP

1 Agu 2011

Nasihat Hindu terhadap pernikahan beda agama

Apakah dibenarkan meninggalkan Hindu:
Agama apapun tentu saja tidak menyarankan kita berpindah agama. Dan kamu akan dihadapkan pada tarik-menarik untuk pindah atau dia yang pindah.

Sedangkan aku harus menikah dan berpindah agama:
Orang tua siapapun tidak berharap kamu berpindah meski dengan alasan menikah sekalipun. Orang-tua siapapun tidak siap lahir bathin untuk itu, pasti akan menuai hubungan tidak harmonis dgn orang tuamu. Jadi perlu dipikirkan lagi, mana yg kamu utamakan, bhakti pada orang tuamu atau bhakti pada dirimu sendiri dgn mengorbankan kepedulian dan harapan orang tuamu. Apalagi soal cinta yng belum kamu tahu pasti, manis sekarang bisa pahit dikemudian. Sdngkan cinta kedua orangtuamu nyata ada sepanjang hidupmu.

Apa yang harus saya lakukan bila orang tua saya tetap menolak:
Pertama, urungkan niat itu dulu, bicara dgn kekasihmu, apakah ia mau berpindah agama demi bhakti pada kedua orang tuamu. BIla tidak, urungkan saja atau sampai apakah hubungan itu pantas untuk dilanjutkan.
Kedua, Jangan melakukan pernikahan tanpa restu kedua orang tuamu apalagi menikah dibawah tangan, atau bahkan hamil diluar nikah agar direstui, akan banyak persoalan besar tiada henti dikemudian hari.
Jatuh bangun dalam masa-masa keluarga nanti akan terus menimpa kamu.

Tetapi kami sudah sangat saling mencintai:
Meski saling mencintai, namun belum direstui, maka pertimbangannya adalah kamu berdua dihadapkan oleh Tuhan untuk memahami agama yang berbeda, bila masih ada kemarahan dalam sikap perbedaan itu, maka itulah yg tidak dikehendaki kedua orang tuamu. Karena boleh jadi kamu hanya kasmaran dimabuk cinta saja, niscaya pernikahannya hanyalah seumur jagung.

Berdosakah kedua orang tua saya bila saya berpindah agama
Maka terlepaslah kewajiban orang tua dalam kewajiban agama bagi anak-anaknya yg sudah dewasa.
Hyang Widhi Maha Tahu, tidak akan memberatkan kedua orang tuanya atas apa yang telah diputuskan anaknya. Sekali lagi orang tua siapapun meski bertanda setuju, tetapi hatinya masih tak bisa tenang.

Kalau begitu berdosakah saya dan orang tua saya:
Tentu saja, rasa berdosa itu akan terus membawa kamu kedalam suasana yang mengganggu ketentraman hatimu juga kedua orang-tuamu, meskipun direlakan juga dituluskan. Karena dharma bagi Hindu bukan soal agamanya saja, tetapi esensi ajaran dharma dalam tradisi, budaya dan budi pekerti yg diwariskan kedua orang tua nampaknya terputus talinya.

Berarti saya harus relakan hubungan ini demi orang tua dan agama saya:
Benar, jangan pernah ragu bila tersadarkan pendapat ini. Kamu harus kenali cintamu, bisa jadi hanya dimabuk kasamaran, meski selama itu indah, disaat berumah tangga belum tentu indah. Yang wanita akan terus tersiksa hatinya, yang pria akan semakin hilang percaya dirinya. Dan anak-anakmu lahir dalam kebimbangan.

Pahami makna cinta sesungguhnya, cinta bukan soal suka sama suka, juga cerita tentang dashyatnya cinta, tapi cinta adlh jalan utk mencapai dharma. Tanpa dharma, waspadalah cinta itu menyesatkan kamu.

Bagi Yang Telah Menikah Beda Agama

Apakah aku telah berdosa karena pernikahan:
Bagi Hindu, soal dosa atau tidak adalah karma dari Dharma dan Adharma. Ajaran Hindu penuh kasih, tidak menghakimi umatnya apalagi membencinya, karena semua adalah tanggung jawabmu. Hindu mengajarkan hukum karma juga kelahiran kembali (reinkarnasi). Jadi apapun yg dilakukan umatnya sekarang adalah bagian dari itu semua. Jadi pilihan menikah beda agama adalah pilihan karmamu sendiri. Dharma harus tetap ada, beda agama bukan ajarannya yg diperdebatkan, tapi komitmen kamu terhadap Dharma yg membaur dgn agamamu sekarang.

Padahal kami sudah memiliki anak dan berbahagia:
Tentu saja prinsip Hindu adalah Dharma yg mengutamakan kebahagiaan, meski dijalan yang berbeda. Bagi Hindu bukan soal Hindunya, tapi ajaran dharma kamu pelihara dan tetap ada dikehidupan keluargamu sekarang.Bila kamu dan pasangan hidupmu juga anak-anakmu dalam kehidupan yang berbahagia, menandakan ada dharma dihatimu meski dalam bahasa yg berbeda. Jalankan dan pelihara terus, bisa saja inilah perjodohan yang nyata dari-Nya.

Meski aku sudah pindah agama ternyata problema perbedaan itu tetap ada:
Ya, itu sudah pasti. Kamu harus menyadari, bahwa inilah jalan yg sudah kamu ambil, akan banyak persoalan kecil yg mengganggu lubuk hatimu. Bersiaplah bila itu terasa menyakitkan dan menyengsarakan hatimu.
Dan yang bisa menyelesaikan hanyalah kamu berdua, belajarlah setiap hari untuk saling memahami, berbicara dgn dewasa dan bijaksana.

Lantas nasihat apa yg paling baik untuk meredam konflik ini:
Mengalah dan bersabar harus dari kedua-duanya, harus lahir bathin. Soal beda pendapat ttg ajaran agamamu dgn ajaran agama yg kamu anut sekarang, kembali pada kamu sendiri, jelas pengorbanan hati dalam sikap dan pendapat yg berbeda menjadi akibat dari semua itu, Dan nasihatnya adalah kerendahan hati, mau menunggu sabar utk memahami perbedaan dgn baik tanpa memaksa. Keutuhan keluarga harus tetap dijaga, saling koreksi diri, mau menerima lapang dada dan membuka diri dalam pemahaman yg berbeda adalah sarana membangun perbedaan menjadi kesatuan yang indah.

Jagalah semua perbedaan demi anak-anakmu:
Bagaimanapun anak-anak yang telah terlahir diantara kamu, maka mereka harus dibesarkan dengan suasana ketenangan bukan ketegangan. Anak-anakmu adalah anugerah yg diberikan untuk terus mempertahankan keutuhan keluarga, dan ini adalah tugas anugerah dari-Nya, dititipkan oleh-Nya agar kita tidak boleh terhenti atau membuat pernikahan itu menjadi sia-sia. Tentu saja, penderitaan anak-anak dari perceraian akan menjadi karma yg sangat tidak baik bagi kehidupan kita dan anak-anak akan datang.

Salam Dharma.

13 Sep 2010

Berguru Pada Hyang Widhi

Tiada kebenaran yang mutlak, selalu berganti dan berganti, bagai bunga akan tumbuh kembang berganti meski terlihat sama, juga dari pohon yang sama.Hanya kebenaran dari-Nya yang tiada berganti, mutlak kekal, dan abadi.

Pandanglah hanya diri kita dengan kesederhanaan yang sempurna, kesabaran yang tulus sejati dan kekuatan yang tak bernafsu, kelak inilah senjata-senjata kita bagi musuh dalam diri kita, juga kunci-kunci dari segala pintu penghalang kita.

Maka sesungguhnya kita telah berguru pada-Nya. Karena tiada guru yang sempurna selain Diri-Nya yang Maha Benar dan Maha Suci.
Indraprabudjati

5 Mar 2010

Relokasi SLB-B Jimbaran Karena Ada Diareal Bisnis ?

Ada barometer yang salah dalam menyikapi arti kemajuan dan pertumbuhan pada nilai ekonomi belaka, melalui nota dinas Kepala Disdikpora Bali, perihal relokasi kepada DPRD Badung, menyatakan bahwa lahan SLB-B Jimbaran kedepan kurang representatif untuk sekolah, karena ada diwilayah pengembangan bisnis. Kenapa dinas pendidikan yang berkompeten pada visi-misi pendidikan anak bangsa, memvonis SLB-B Jimbaran yang menjadi binaannya bertahun-tahun, tiba-tiba bersikeras menyatakan sekolah ini berada diareal perkembangan bisnis, dan harus dipindahkan ke Tohpati.

Apakah paradigma budaya orientasi dinas pendidikan provinsi sekarang, tunduk atau terjebak pada materialisasi? Ini pendapat rumusan alasan relokasi yang perlu dikaji ulang.

Semestinya secara matematis, maju pesatnya perkembangan bisnis diareal itu, harus seirama dengan kedewasaan kita pada perilaku, moral dan etika. Tampaknya hal itu malah timpang, adanya SLB-B di Jimbaran, menunjukkan komitmen moral terhadap keseimbangan kedewasaan kita, yang menyirami benih-benih kebajikan menjadi taman kehidupan di Kuta Selatan, dimana semua manusia termasuk anak-anak penyandang cacat, hidup berdampingan, bersenda gurau dan bergandengan tangan. Bukan justru SLB-B diberikan pendapat berada ditempat yang salah, akhirnya terjadi gusur-menggusur, meski dengan kata yang lebih santun, menggagas relokasi SLB-B yang lebih representatif. Padahal bersamaan relokasi, di akhir 2009, Disdikpora Bali baru saja merampungkan gedung baru laboratorium bahasa senilai 900 juta-an. Artinya, gedung baru senilai ratusan juta di kawasan SLB-B Jimbaran, hanya akan berusia singkat digunakan.

Menetapkan secara lebih jelas, cara analisis yang lebih menyakinkan masyarakat, adanya analisis instant lahan SLB-B untuk kepentingan bisnis, menyampingkan prestasi dan jerih payah yang sudah dibangun para pendidik, anak-anak autis, tuna rungu dan tuna wicara di SLB-B Jimbaran. Dilain hal, Justru perusahaan swasta dan asing, hotel berbintang di Jimbaran, Kuta dan Nusa Dua memberikan sumbangan materi, pelatihan kerja bahkan memperkerjakan siswa lulusan SLB-B di hotel, patut diacungi dua jempol!. Nampaknya Disdikpora Bali kalah analisis dengan analisis mereka terhadap keberadaan anak-anak SLB di Jimbaran, padahal kita selalu menunjukkan religius dan berbudaya tradisional ketimbang bangsa barat.

Lagipula tak jauh dari gedung SLB-B Jimbaran, juga ada SDN 06. Apakah SDN 06 juga akan dikenakan perihal yang sama? Bagi masyarakat pengguna SLB-B, ini berindikasi sebuah persepsi munculnya nuansa perbedaan yang kental, anak-anak normal dan penyandang cacat itu berbeda dan harus berbeda.

SLB-B sejak 1984, meski pembangunan fisik sebagai salah satu indeks kemajuan sekolah berpredikat Sekolah Pembina Tingkat Nasional ini, masih jauh dari predikatnya, namun pertumbuhan nilai moralitas dan kualitas pendidikannya sudah bergerak sesuai predikatnya di provinsi Bali. Kenapa harus membuat biaya lain, padahal memperbaikinya adalah gagasan yang jauh lebih bersahaja dan bijaksana. Biaya relokasi puluhan milyar yang telah dianggarkan, justru bisa ditekan dan dialihkan untuk peningkatan fasilitasnya yang sudah tersedia di Jimbaran. Tentunya, kita akan angkat topi setinggi-tingginya dengan apa yang telah dilakukan oleh Gubernur Bali dan Disdikpora Bali, tidak hanya menunjukkan simpati tetapi juga empatinya.

Penafsiran sepihak Gubernur, Disdikpora dan Komisi IV DPRD Bali, mendudukkan posisinya seakan orang tua, anak-anak SLB-B dan masyarakat di Jimbaran tidak terlibat langsung, sehingga aspirasi penolakan relokasi tidak dimediasi dengan kearifan dan sikap ‘legowo’ bersosialisi lebih awal. Sebagai berkumpulnya sarjana-sarjana pendidikan di eksekutif dan legistatif, tentunya profesionalitas seorang pendidik dituntut tidak mudah tunduk pada kepentingan dunia materialitas semata.

Sebagai mayoritas Hindu, kita percaya, peran niskala-sekala pada lingkungan dan tanah SLB-B Jimbaran sudah mendukung, adalah anugerah viveka bagi kita. Kalau kita mengingkarinya, rasanya kita telah mengabaikan nyadnya kita pada amanah leluhur yang menitipkan anak-anaknya pada kita di Jimbaran, yang sedang menjalani kehidupan dengan keterbatasan.

Anak-anak SLB-B di Jimbaran sudah memiliki ‘roh’, ada penyatuan spirit dilingkungannya, nyatanya turut andil memberikan nilai-nilai therapist yang kondunsif dan amat diperlukan dalam tumbuh kembang mental anak-anak SLB-B. Kesolidaritasan orang tua, mampu berpikir konstruktif dari keberagaman suku maupun agama, menyatu dari situasi adanya saling membutuhkan, wujud cinta kasih sesama, seakan sudah digariskan oleh Yang Maha Pencipta. Menjadi bukan soal jarak jauh dekat, tetapi nilai humanis yang ingin dipertahankan. Bila saja, di jajaran eksekutif dan legistatif, memiliki nasib anak-anak yang sama dengan anak-anak SLB, pastinya tak akan ragu melakukan perjuangan yang sama.

Maka, relokasi menjadi beban moral dari harmoni yang sudah terlanjur tercipta, akan ada yang terputus sekolah, meski maksimal gedung barunya di Tohpati, belum tentu optimal siswanya berpindah disana. Bila saja, salah satu temannya tidak bersekolah kesana, maka temannya akan kehilangan. Secara psikis, mengganggu emosionalnya, karena bagi mereka, bersekolah, bukan karena keharusan bersekolah. Pemerintah, masyarakat, pendidik dan orang tua yang berkepentingan menyekolahkan mereka.

Anak-anak tahunya hanya ingin bermain, memilih teman dan saling bersahabat, kehilangan satu sahabat, hilang rasa percaya dirinya dan pupus minatnya bersekolah. Perlu berbulan-bulan untuk mengubah dampak pada psikisnya. Relokasi memberikan dampak psikologis anak-anak SLB-B, dipaksa mengikuti adaptasi lingkungan baru di Tohpati yang jauh berbeda dengan kenyamanan di Jimbaran yang sudah tercipta kondusif dengan luas lahan yang memenuhi manfaat therapis bagi tumbuh kembang anak bertahun-tahun.

Satu hal yang dikesampingkan dari perhatian Gubernur dan Disdikpora Bali, bahwa Infrastruktur yang dibangun dengan konsep lahan di Jimbaran, diperhitungkan anak-anak bisa terhindar dari bahaya gempa bumi, karena anak SLB akan bereaksi lamban ketika ancaman gempa bumi datang. Di Jimbaran, luas taman sebagai areal terbuka ada disetiap gedung satu sama lain saling berjauhan. Setiap gedung sangat minimalis, tidak berliku, memiliki banyak pintu dan jendela keluar. Berbeda di gedung sekolah umum, meminimalisasi areal terbuka, bertingkat, berliku, pintu keluar sempit dan tersembunyi, siswa mudah terjebak didalam gedung ketika dalam keadaan panik.

Terkesan Disdikpora Bali tampak terjebak pada distorsi visi dan misi atasannya sendiri, perannya sebagai Pembina SLB-B, yang memahami betul kualitas prestasi tumbuh-kembang yang sudah terbangun disana, kenapa harus disampingkan, membiarkan lahan SLB-B menjadi pemanfaatan lahan yang insidensial, dan ‘menganugerahi’ SLB-B tidak representatif. Gedung representatif ala Gubernur Bali di Tohpati belum bisa menjamin terciptanya harmoni yang sudah terbangun di Jimbaran. Sedemikian pentingkah lahan itu untuk ditinggalkan, dan adakah suara hati nurani yang lebih pantas, untuk menggantikan SLB-B di Jimbaran.

Kita yakin pemerintah provinsi dan wakil rakyat di DPRD Bali masih malu juga setengah hati berterus terang tentang hal ini. Cerminan tradisi pemerintahan daerah kita, berada pada posisi defensif berhadapan dengan kecenderungan budaya-spiritual Hindu dan moderenis. Ini merupakan cerminan fakta, bahwa otonomi daerah belum tercapai dibidang budaya dan spiritual.

Jika pada konsep Tri Hita Karana, masyarakat diminta menjalankan dengan kepekaan hati, dengan rasa, sedangkan pemerintah sebaliknya, diminta lebih rasional, bijaksana dan selalu adil. Relokasi ke Tohpati, cenderung menonjolkan nostalgia di Jimbaran, ketimbang pendapat representatif yang dimaksud.

ORANG TUA MURID SLB-B JIMBARAN UNTUK SARASEHAN HINDU NUSANTARA

24 Feb 2010

Hari Saraswati: Membaca Buku adalah Swadharma

Dewi Saraswati datang membawa sejuta buku, membagi-bagikan ilmu-Nya, diantara anak-anak kita, agar dapat tumbuh kembang menjadi anak-anak tunas bangsa Indonesia, berjiwa tauladan, mandiri dan berdikari. Sang Hyang Widhi mengutus Dewi Ilmu Pengetahuan ini, untuk hadir ditengah-tengah kita, membawa berkah bagi kehidupan kita semua. Dan kita mencurahkan pemberian-Nya melalui buku-buku yang kita tuliskan, dari generasi ke generasi.

Membaca buku adalah bagian dari ibadah kita, ibadah kepada-Nya, karena buku memberikan inpirasi dan pencerdasan pikiran dan jiwa, dari buku kita menyerapnya dan memberikan sumbangsih pada kita sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa, hal demikian adalah ibadah yang telah kita lakukan sesuai kehendak-Nya, yang telah menganugerahi kita akal dan pikiran yang sehat.

Kini, meski di jaman yang sudah disesaki dengan sejuta buku tentang pencerahan agama kehinduan kita, nyatanya masih merupakan bentuk ibadah yang terbelakang. Keengganan membaca buku pengetahuan agama menjadikan sumber daya umat Hindu paling lemah, hingga melemahkan sistem penyajian komunikasi, metode dan kualitas materinya. Hasilnya, ibadah dipahami dalam bentuk kekayaan ritual, sekelumit upakara dan pergi ke pura yang paling banyak disesaki umatnya hingga yang terkenal kesaktiannya.

Seharusnya kita malu pada Dewi Saraswati, dihari perayaannya, justru buku-buku agama, maupun lontar-lontar sastra kuno tabu dibaca, hanya ditumpuk dan diupacarai, dibuka hanya pada saat keperluan ritual, bukan keperluan untuk dipelajari dan digugah manfaatnya. Upacara hari Saraswati diberatkan pada nilai ritual, dan silih berganti keluar masuk pura tanpa dharmawacana, tanpa upaya mengupas maknanya dengan ceramah dan diskusi agama.

Andai saja Dewi Saraswati marah, tentunya ia takkan datang lagi dengan sejumlah tangan yang membawa sejuta pengetahuan, tetapi membawa sejuta pentungan, memaksa kita menyadari, kehadirannya oleh Sang Pencipta, datang untuk memberdayakan umat kita, agar jangan lagi dibodohi sikap ‘eksklusifisme agama dan tradisi’, saatnya menggunakan akal dan pikiran yang selaras dengan kesadaran-Nya (bermoral dan berbudi luhur sebagaimana sifat-sifat-Nya pada Brahman).

Mari kita sambut dan maknai perayaan Saraswati sebagai inspirasi pencerdasan umat, pemberdayaan dan butir-butir reformasi Hindu Nusantara masa depan!
Rahayu, Indra Prabudjati

Berguru pada Dewi Saraswati

Tersebutlah di parahyangan gunung agung, widadari diatas kahyangan pegunungan yang teramat suci itu, tengah bersenda gurau lepas, menabur bunga-bunga wewangian aneka warna dan sesekali memerciki tirta giri kusuma diatas hamparan pura Besakih, saat tiba menjelang fajar menguning dilangit, yang masih berserakan kabut sutra.

Pagi ini, saniscara umanis, watugunung, tanggal empat belas sasih kasanga 1931 saka, adalah hari perayaan Saraswati, umat di seluruh pelosok Bali dan nusantara tengah bersiap-siap melakukan persembahyangan bersama.

Saat pagi menjelang inilah, Dewi Saraswati berhasrat akan turun ke Bali, dirinyapun bersiap keluar dari istana swargaloka di kahyangan nusantara. Ia disambut widadari kahyangan penuh kehormatan. Dewi Saraswati adalah permaisuri Dewa Brahma, dewi ilmu pengetahuan, kedamaian, seni, musik dan kearifan. Dirinya dilukiskan sedang memegang buku perwujudan pengetahuan Sanghyang Widhi dan alat musik yang mengalunkan nada-nada tembang kebijaksanaan tertinggi, bersama bangau putih, kendaraannya yang setia menemaninya kemana saja.

Setelah mendapat restu dari Dewa Brahma, terbanglah dirinya menaiki burung bangau dan ditemani belasan widadari pengiringnya. Ketika baru turun dari kahyangan, melihatlah dirinya ke gunung agung, tepatnya di puncak kori agung, tampak kejauhan anak muda seorang diri sedang bersemadhi, dihadapan sebuah pelinggih Sanghyang Tunggal yang teramat sederhana, gugusannya terbuat dari batu merah, tersusun bagai meru bertumpang sebelas dan bertedung putih dan kuning. Turunlah dirinya, dihadapan anak muda yang tengah bersikap amustikara itu, terperanjatlah dirinya, lalu bergegas mencakup kedua telapak tangannya, berucap salam padanya. Rasa kagum Dewi Saraswati pada anak muda itu, teguh seorang diri, bersemadhi dipuncak gunung pada perayaan turunnya beliau ke bumi. Sangat jarang didapatnya, anak muda yang bertekad kuat memiliki keinginan berilmu darinya, yang tulus bersusah payah mencapai puncak gunung dan bersemadhi seorang diri.

Dewi Saraswatipun bertanya padanya, gerangan apa yang anak muda itu inginkan, dalam pertapaannya di kedinginan gunung agung seorang diri. Pemuda itu mengatakan pada Dewi bahwa dirinya tengah bersemadhi, menunggu Dewi Saraswati turun dari kahyangan pada perayaan Saraswati nanti, karena dirinya sangat memohon anugerah ilmu darinya, kelak ingin mengabadikan sinar ajaran kepandaian Dewi Saraswati sebagai seorang siswa yang berguna.

Lalu sang Dewi pun mengabulkan permohonannya, dirinyapun memberikan pelajaran pada anak muda itu tentang ilmu menjadi guru bagi dirinya sendiri, sekaligus menjadi seorang siswa adhikari, tuntunan mennjadi seorang umat muda dengan spiritual yang baik, mampu menahan dirinya dari perbuatan buruk dan terus mengembangkan sifat-sifat Sanghyang Widhi kedalam dirinya.

“Sebaiknya diingat-ingat nasihatku ini, dirimu yang berhati teduh, bening dan berbudi mulia, sabar dan cerdas dalam segala sesuatu. Tak mau lupa diri, hingga masih senang ingin mendapat ilmu dariku. Mantapkan hati kedalam kebajikan, dan pesanku padamu, bersyukurlah dengan penerimaanmu, kepandaian akan ilmu dariku semua itu sudah ada dalam hatinya setiap manusia, sebab itu orang-orang muda harus sering bertanya jangan malu kelihatan bodohnya, dari bodoh pintar bermula, rajin-rajinlah mencari ilmu untuk memperkuat diri. Karena pengetahuan tentang ajaranku ini tak akan turun tanpa membebaskan dirimu dari kemalasan dan kebodohan.”

“Janganlah lalai dari puja trisandhya (doa pertemuan pagi, siang dan malam) janganlah berhenti pujastuti kepada Sanghyang Widhi, agar terjaga pikiran dan hatimu itu dengan kepandaian dan kebajikan dari-Nya. Hanya kedisplinan pada puja trisandhya, yang bisa memelihara ajaran kepandaianku tetap dalam anugerah-Nya“ Anak muda itu mengangguk berulang-kali penuh semangat.

“Peganglah ajaranku ini anakku, Sanghyang Widhi sudah menganugerahi kita semua dengan rasa ajaib penuh rahasia, yaitu ada pada manas (pikiran), buddhi (akal kecerdasan), indriya (panca indera), sarira (badan) dan atma-mu (sukma) itu. Oleh karena itu kerjakanlah nitya-jnana (pengetahuan abadi) dengan kebajikan itu siang dan malam, agar dapat bertemu dengan-Nya (sifat-sifat-Nya) yang tak dapat dipakai dengan kepandaian pikiran belaka, yang begini bila tercapai, maka sesungguhnya engkau adalah siswa yang telah berguru pada-Nya dan bahkan pula, terbayarkan hutang-hutangmu kepada kedua orangtuamu, terutama ibu yang melahirkan dan menjagamu” Ucap Dewi Saraswati penuh keibuan.

Dewi Saraswatipun semakin mendekatkan dirinya pada anak muda itu, dibelailah kepalanya dengan kasih sayangnya, laksana ibunda pertiwi dengan ananda kesatrianya.

“Anakku, mencapai ilmu kepandaian yang tinggi tidak ada jalan lain kecuali berlaku sabar, sebagaimana engkau mencapai puncak gunung tidak dengan tergesa-gesa, bulan pun bertambah besar sedikit demi sedikit untuk menerangi bumi, pohon beringin pun berasal dari benih yang sangat kecil dan tidak tumbuh besar seketika, ringkasnya jagalah kepandaianmu hingga menjadi tinggi dengan benih-benih kebajikan saja, yang demikian akhirnya menjadi sempurna, tidak ada yang kurang apalagi hilang (abadi).”

“Turunlah engkau dari puncak gunung, kembalilah memulai hidupmu menjadi siswa yang tekun, patuhlah pada kedua orang tuamu juga gurumu, pelajarilah ilmu kepandaian dengan kebajikan dan kesabaran, niscaya engkau akan menjadi siswa yang berguna bagi nusa dan bangsa, senang hati Sanghyang Widhi menganugerahimu, kelak kamu akan menjadi siswa yang kaya raya dalam dharma, senantiasa berhasil dalam segala cita-cita.”

Anak muda itu senang hatinya, berterima kasih dan berpamit mohon diri, perlahan menuruni bebatuan yang curam dari ketinggian gunung Agung. Beriringan dengan widadari kahyangan, mengiringi Dewi Saraswati melanjutkan darmayatra, meninjau pura-pura luhur sad kahyangan dipulau seribu pura, memberikan restu dan menganugerahi ilmu-ilmu kepandaiannya pada semua umat dengan senyum dan penuh kasih, di perayaan saraswati yang membahagiakan.

Anak muda itupun berjalan ceria, menuai harapan dari kejauhan, seandainya orang-orang cendikiawan, guru dan pemimpin bangsa ini, tak berharap tanda jasa, sepi dalam pamrih, sadar mengabadikan ajaran kepandaian pada dirinya, mengutamakan ilmu untuk kebajikan bukan untuk keangkuhan, kekuasaan dan kekayaan semata.

Tentunya akan banyak generasi muda menjadi siswa yang disiplin, patuh dan tekun menimba ilmu pengetahuan dengan kebajikan, sadar pada masa depannya bersama membawa negeri nusantara tercinta ini, lepas dari kemerosotan moral dan korupsi yang membudaya generasi ke generasi.
Rahayu,Indraprabudjati 24022010

22 Jan 2010

Bedanya Danghyang Nirartha Dan Syekh Siti Jenar

“Hamba sampai di Bali, ketika hamba bertapa di Rabut Palah. Alangkah susahnya mencapai Bali, dengan menaiki perahu bocor melawan gulungan ombak yang dashyat.”

Danghyang Nirartha adalah guru mistik cemerlang, Ia adalah tokoh mistik sejati yang menguasai lintas agama. Ia dikenal sebagai guru, sekaligus pendeta utama yang menyebarkan ajaran Padmasana di tanah Bali secara konstektual. Meski berkultur budaya keJawa-an (kejawen), tetapi dirinya pemeluk militan Budha Jawa (mahayana dalam konsep kawruh budhi), tetapi ketika di Bali, dirinya mahir berperilaku Siwa, di Lombok lain lagi, sungguh piawai berbicara Islam. Dasar penyampaian dirinya, adalah realitas, selalu disesuaikan dengan kondisi Bali. Tidak seperti Adipati Samprang, yang serta-merta me-Majapahitkan budaya dan agama orang Bali asli. Tak ayal menimbulkan konflik, padahal mereka jauh lebih dulu ada bersama dijamannya Rsi Markandeya dan jamannya Mpu Kuturan. Sungguh, Danghyang Nirartha menyadari dan mengilhaminya.

Pengalaman beliau ketika Majapahit sirna, ajaran pembebasan sudah begitu mendapat tempat dihati kaum miskin. umat yang terkekang konsep kasta. Di Jawa, begitu Sunan Kali Jaga datang menyebarkan dakwah pembebasan, dan kesederhanaan beribadah, Islam berbudaya Jawa, hasilnya diluar perkiraan, serta merta banyak yang meninggalkan kepercayaan Hindunya, masuk Islam karena pembebasan dari kasta, warna dan wangsa.

Adalah aneh, jikalau Danghyang Nirartha, malahan mengilhami konsep perbedaan wangsa, kaum brahmana, ksatrya dan sudra. Padahal, Beliau tahu betul, Islamisasi di Jawa yang telah berkembang cepat, membawa pesan kesetaraan, tanpa wangsa adalah modal utamanya, menarik sebanyak mungkin Hindu dan Budha menerima Islam. Kelak bisa saja, Islam (Demak) atau Kristen (Portugis saat itu) akan mudah masuk ke Bali dan menyebarkan pola yang sama, kesetaraan di Bali!

Danghyang Nirartha, berada di Jawa dan mengenal betul figur Syekh Siti Jenar yang fenomenal, banyak disegani rakyat tetapi dimusuhi para Wali Islam dan Raja Demak. Banyak pembesar di Majapahit, termasuk Adipati Pengging berhubungan dengan Syekh, tanpa meninggalkan kehinduannya. Syekh itu juga seorang Wali Islam, Adipati Demak yang meski ajaran keIslamannya tidak lagi diakui Demak, nyatanya, Syekh memiliki gerakan penyebaran ajarannta terbanyak ketimbang Wali lain. Syekh menolak Islamisasi di Jawa dengan peperangan, dan yang menyebabkan Syekh semakin tidak disukai Wali Lain adalah karena gencar menolak penyerangan Raden Patah ke Majapahit, dan perlawanan itu berhasil, meski setelah Syekh dan Raden Patah sama-sama meninggal, Demak melalui penerusnya baru kemudian menguasai Majapahit.

Syekh memang piawai berpikir, idenya membawa solusi jitu, paling tidak sudah bisa mempengaruhi Demak untuk tidak melakukan ekspansi ke timur Jawa terlebih Majapahit, apalagi Majapahit adalah kerabat leluhurnya yang tentunya tidak akan tiba-tiba menyerang Demak begitu saja. Alibi Syekh adalah; Demak semestinya melihat Portugis sebagai saingan, bukanlah Majapahit. Karena pada jaman itu, Majapahit nyatanya tak peduli meski Demak selama itu sedang gencar memperluas Islam di Jawa. Majapahit sudah diricuhi selisih keluarga, saling berperang diantara keluarga merebut tahta atas nama keturunannya sendiri-sendiri.

Bagi Syekh, sudah sejak dahulu Majapahit menerima kehadiran penyebar Islam seperti Sayid Jamaluddin Ibnu Hussein dan Sunan Ampel. Sayid Jamaluddin bahkan telah dilegitimasi oleh Majapahit dengan sebuah tanah perdikan Islam. Pada masa Sunan Ampel, ketika Sunan Ampel meninggal, Prabu Brawijaya V menganugerahi Romo Bayan Ampel. Kenyataan historis inilah yang dijadikan dasar Syekh untuk menentukan ukuran sikap Demak terhadap Majapahit. Meskipun pada akhirnya bagi para wali dan Demak, jelas ada pandangan bahwa hanya Islam, satu-satunya agama yang diakui, dan dilegimasi dengan pernyataan bahwa agama raja adalah agama yang harus diikuti rakyatnya. Jelas berbeda dengan prinsip keagamaan Majapahit yang tidak pernah memberlakukan satu agama ataupun agama raja harus dianut sama oleh semua rakyatnya.

Syekh beralasan, karena kelak bila dihabisi, tak akan menyurutkan agama asli, Hindu dan Budha di Nusantara, tetap akan memunculkan kerajaan Hindu baru, mengingat jumlah pemeluk agama asli, Hindu, Budha masih banyak dan mengakar di Jawa.

Dan itulah pemikiran teorinya, meski Hindu-Budha tidak lagi di Jawa, nyatanya Bali malah menjadi embrio baru, lahir dan besar sebagai wilayah ‘kerajaan’ Hindu besar dijamannya, pun nyatanya Hindu ala Indonesia itu, tetap eksis di jaman modern sekarang! Seolah Alam nusantara berkata lain, dengan keberadaan Bali, kita melihat dunia yang berbeda, pulau kecil yang tak punya sumber daya alam, tetapi bisa terkenal melebihi Indonesia!

Bagi Syekh, sebagian besar orang Jawa memiliki akar pemahaman ajaran Hindu dan Budha yang kuat pada nilai-nilai budaya dan jati diri leluhurnya ketimbang nama besar agamanya! Dan benar, umat Hindu di nusantara, mempertahankan kepercayaan Hindunya, lebih karena mencintai rasa pada bathiniahnya bukan lahiriahnya! Persoalan kafir atau musrik, itu hanya pandangan, Syekh menyadari bukanlah esensi dari ajaran dharma Hindu dan Budha itu. Oleh karena itu, Syekh berpandangan penyebaran Islam di Jawa harus disadari dengan cara pemahaman Islam yang selama ini didengungkannya. Nyatanya lebih mudah diserap dan diterima dengan baik gerakan pengikutnya.

Raden Patah akhirnya memilih memperluas wilayah bukan dari timur Jawa, tetapi cenderung ke barat Jawa hingga Palembang dan Jambi. Karena sudah nyata, Portugis semakin menjalin pengaruh pada kerajaan-kerajaan strategis dinusantara. Jadi memanglah benar bahwa Raden Patah bukanlah penyerang Majapahit, karena Raden Patah sampai meninggal, diakhir masa pemerintahannya masih dalam ekspansi ke wilayah tengah dan barat Jawa, Jakarta dan Sumatera. Raja penggantinya adalah yang terekam sejarah dalam perebutan kekuasaan di Majapahit dan hampir sebagian timur Jawa.

Johor sudah melepaskan diri dari Majapahit, karena sudah lebih dulu bersekutu dengan Portugis, tepatlah dugaan Syekh, selatan Sumatera dan wilayah barat Jawa akan dipengaruhi politik dagang ala Kristen Portugis. Cirebon dan Pajajaran sudah terbukti tidak mau tunduk semenjak Gajah Mada dulu.

Ceritanya jaman kemasyhuran Syekh ketika itu, adalah ketika sebagian besar masyarakat Jawa waktu itu lebih banyak memilih menjalankan ajaran Islam Syiah. Dan Syekh Siti Jenar adalah guru agama beraliran Syiah yang termasyhur pada jamannya. Maka oleh penguasa Demak Syekh dianggap sebagai penyebar pengikut Aliran Syi’ah di Jawa kala itu, (Raden Patah bukan dari aliran Syi’ah, melainkan berasal dari Aliran Sunni bermazhab Hanafi -lantaran warga keturunan Cina di Jawa bermazhab Hanafi)maka Syekh dijerat pasal hukuman tentang penyebaran ajaran sesat dan dia dijatuhi hukuman mati oleh penguasa Demak. Dengan cara demikian lumpuhlah para pelaku dharma Syi’ah Jawa (Islam ala Jawa), sehingga dukungan terhadap Raden Patahpun semakin menguat.

Aliran Syi’ah berorientasi pada syariat yang lebih menekankan pada ajaran kebatinan. Dan, kelihatannya golongan Syi’ah lebih mudah diterima dan dijalankan oleh orang Jawa yaitu Syi’ah yang berpaham Wujudiyyah atau Manunggaling Kawula klawan Gusti. Ajaran inti dari Wujudiyyah ialah segala sesuatu yang maujud ini merupakan emanasi atau percikan sinar Ilahi.

Alasan lain untuk menghukum mati Syekh Siti Jenar adalah karena dia menjadi guru agama bagi empat puluh adipati, termasuk gurunya Raden Kebo Kenongo alias Ki Pengging (raja bawahan Majapahit yang menguasai daerah Pengging) yang menjadi pesaing Raden Patah dalam kelanjutan tahta Majapahit dan sekaligus ahli waris sahnya. Ki pengging adalah sosok ahli waris utama Majapahit ketika itu, jelas memiliki potensi kuat yang berlawanan dengan Raden Patah sebagai penguasa baru di Jawa. Meski Syekh Siti Jenar menjadi guru spritualnya, tetapi tidak berarti Ki Pengging masuk Islam.

Ajaran Syekh Siti Jenar ini memiliki pengaruh luar biasa di masyarakat Islam di Jawa, terutama pedalaman Jawa Tengah. Hal inilah yang justru mengkhawatirkan Raden Patah terhadap kerajaannya yang masih baru berdiri dan bisa meruntuhkan kekuatan penyebaran Islam baru di Jawa.

Jadi, sebenarnya bukan ajaran Syekh Siti Jenar itu yang ditakuti oleh Raden Patah, dan bukan pula kesesatan ajarannya, sebab ajaran yang dipegang oleh para wali itupun ajaran Manunggaling Kawula-Gusti. Contohnya, sampai hari ini makrifat Manunggaling Kawula Gusti yang berasal dari Sunan Kudus tetap berkembang di Indonesia.

Raden Patah berhasil mendirikan Kerajaan Demak berkat dukungan adipati-adipati yang ada di pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur yang di kemudian hari disebut sebagai para wali, yang sering disalahpahami sebagai ulama penyebar agama Islam. Padahal, yang menyebarkan agama Islam adalah para pedagang, sedangkan yang disebut “Wali Sanga” itu bukanlah pedagang, meski ketika mudanya di antara para wali, seperti Sunan Giri, ada yang berdagang. Para anggota Wali Sanga adalah adipati yang bergelar “sunan” dan memiliki daerah kekuasaannya sendiri-sendiri.

Sebagai penguasa-penguasa kadipaten, mereka menerapkan prinsip agama ageming aji. Setiap warga di kadipaten itu diseru, diajak, untuk memeluk atau menjalankan ajaran Islam, Setiap warga negara Kesultanan Demak diwajibkan untuk mengikuti agama raja.

Aliansi masyarakat Jawa Islam dan Cina Islam yang tinggal di pesisir Jawa inilah yang kelak mendorong lahirnya Kesultanan Demak Bintoro yang raja pertamanya adalah Raden Patah.(KEJAWEN: SUATU SISTEM ISLAM SEBAGAI SOLUSI TANTANGAN ZAMAN Oleh: Ir. Achmad Chodjim Shaleh, MM).

Kesultanan Demak mengikatkan diri dengan Kekhalifahan Utsmani di Turki untuk menghadapi perlawanan para pengikut Syekh Siti Jenar, dan secara perlahan-lahan Mazhab Hanafi digeser dan digantikan oleh aliran Islam Mazhab Syafii yang memang sudah berkembang kuat di Semenanjung Malaka. Mazhab Syafii pun lebih fleksibel dalam menghadapi tradisi yang sudah mengakar di tengah masyarakat Jawa. Ajaran Islam mazhab Syafii juga lebih dekat dengan praktik-praktik keagamaan aliran Syi’ah.

Meskipun ajaran Syekh Siti Jenar yang egaliter dan berpegang pada pluralisme dalam Islam ajaran itu dibasmi habis-habisan, namun nyatanya ajaran yang disebut Islam Jawa ini tetap eksis di dalam Kesultanan Demak. Sunan Kalijaga yang di satu sisi sebagai penasihat Sultan Trenggana (Sultan Demak III), namun di sisi lain dia adalah guru bagi Jaka Tingkir (anak Ki Pengging, dan akhirnya dapat mendirikan Kesultanan Pajang), Ki Gede Pamanahan, Ki Panjawi, dan Ki Juru Amartani.

Setelah masa Syekh dihukum mati dan pengikutnya berhasil dipersempit gerakannya, Demak mulai menyerang semua wilayah Majapahit, bukan oleh Raden Patah, tetapi oleh anak dan cucunya, Pati Unus dan Trenggana. Pati Unus berhasil menggeser Prabhu Dyah Wijayakarana Girîndrawarddhana hingga pindah ke Klin, Daha dan beberapa tahun kemudian, Trenggana akhirnya membumihanguskan Majapahit dinasti Girîndrawarddhana di Daha. Sisa Majapahit hanya tinggal Lumajang dan Blambangan, namun belakangan Lumajang sirna, tunduk pada Demak, pelarian Majapahit yang tak puas, mulai banyak merambah Semeru, Tengger dan Bromo. (bersambung)
------------------------------------------------------------------------------------

“Penunjuk jalan yang hamba terima dari Paduka Bhattara Palah selalu hamba genggam erat, hingga akhirnya, laksana hamba menemukan cikal Majapahit Baru, Waturenggong yang lugu tapi bijak, dan orang-orang Bali yang tak lain Jawa masa lalu, Majapahit yang kehilangan ratu adilnya”

Lain Syekh, lain halnya Danghyang Nirartha. Baru muncul setelah Syekh tinggal nama. Kemunculannya di Bali sebagai pendeta besar yang fenomenal. Wataknya berbeda dengan Syekh, yang lugas berpolitik dan senang berbicara apa adanya, kebalikan dengan Sang Brahmana ini, mudah iba, amat rendah hati, selalu mengalah, sedikit bicara, tetapi juga keras dan tegas, dan perbedaan yang mencolok dengan Syekh, Brahmana ini tak senang berpolitik.

Semasa Syekh hidup, Brahmana sakti wawu rawuh ini sudah meninggalkan hiruk pikuk Majapahit. Dirinya sudah lama berada di Rabut Palah. Di Candi Palah yang kesohor mengulas ajaran Siwa dan Budha. Titah dari Candi Palah, membawa amanah Danghyang Palah hingga Silayukti, agar mengembara mencari ilmu rahasia menuju kemanunggalan (moksa).

Titahnya, menyebarkan dharma kemanapun mengembara, agar jangan pernah berhenti, meski hanya sekedar minum. Hanya moksa lah yang menghentikannya.

Sayang, Brahmana ini memang mudah sekali iba, dirinya selalu mudah diminta untuk tinggal ditempat yang dia singgahi. Hingga kerap selama tinggal, selalu ada intrik, buruk sangka juga fitnah, yang menjadikan beliau terperangkap dalam perjalanannya sendiri, kisah memilukan hatinya ketika di Blambangan, adalah awal dari kelengahan beliau terhadap amanah Danghyang Palah, untuk selalu tidak berlama-lama berhenti berjalan.

Danghyang Nirartha memprihatinkan perbedaan kasta, warna dan wangsa yang kuat melekat pada orang Bali, apa yang dialaminya, ketika Wali-wali Islam di Jawa, yang mudah menyulap orang Jawa Hindu menjadi Islam, adalah keinginan orang Jawa membebaskan dirinya dari kasta yang mengikat.

Baginya, adalah kemunduran bertradisi, perbedaan wangsa di Bali nyata dilihat tinggi rendah status orangnya, bukan peran dan tanggung jawabnya.Jelas baginya, akan menimbulkan persaingan tanpa akhir, banyak merugikan dan lepas dari peran tanggung jawabnya, sebagai keturunan brahmana, maupun kesatria, yang semestinya saling melengkapi, bukan saling menggungguli. (bersambung)

-------------------------------------------------------------------------------------

Ketinggian ilmu kedua tokoh agama ini, mengundang curiga, sama-sama dianggap punya ilmu sihir! Padahal, yang membuat keduanya terkenal, adalah karena keteladanan dan sikapnya yang egaliter, merasa sama dengan semua orang, meski yang satu wali Islam dan yang satu brahmana Hindu , sama-sama tak soal untuk ‘duduk dibawah sama tinggi sama rendah!’

Danghyang Nirartha selama di Bali, bukan karena diundang seperti brahmana-brahmana Jawa sebelumnya, muncul dengan sendirinya dan hilang dengan sendirinya pula, begitu misterius, mistik dan fenomenal.

Beliau dihadapkan penyimpangan ritual agama dan konflik antar wangsa dan kasta. Beliau dipercaya Raja Gel Gel, dan berhasil menggugah Bali, membangun nilai-nilai historis Majapahit yang aplikatif, disesuaikan dengan sifat dan tradisi Bali, bukan pada kastanya, tetapi gubahan parahyangan pura-pura di Bali, inspirasi penegakkan Padmasana, serta pelaksanaan agama dan upacaranya.

Beliau, mengilhami dan mengembalikan Triwangasa, pada kesadaran peran dan tanggung jawabnya, bukan untuk saling mengungguli juga membedakannya, karena baginya, semua adalah setara, dan setara bagi yang miskin papa sekalipun!

Danghyang Nirartha paham betul, bahwa konsep Triwangasa, adalah konsep hidup beramal sesuai peran, kemampuan dan tanggung jawabnya, salah bila untuk memisah-misahkan dan merendahkan umat lain dalam bentuk apapun.

Persembahan apapun bagi beliau, Tuhanlah yang diutamakan, oleh karena itu, Tuhan tidak membedakan orang itu, karena dengan mengutamakan Tuhan yang terutama, wajib rasanya kita bertanggung jawab mengedepankan orang lain sama dihadapan-Nya!

Landasan pikiran Danghyang Nirartha, tentang Triwangasa adalah, manusia harus bekerja saling melengkapi bukan saling mengungguli. Perbedaan ini adalah pekerjaan, bukan predikat yang sebenar-benarnya yang akan dipersembahkan pada hari akhir-Nya.

Bila itu terjadi sungguh, dirinya akan dihempas kembali seperti yang ia lakukan terhadap orang lain, yang dianggap lebih rendah dari dirinya, bahkan mungkin lebih rendah dari yang sekarang, demikianlah karma adanya. Dirinya yang taat pada asal usulnya yang Jawani, Budha Mahayana cara Jawa, mampu memahami penjelmaan Siwa cara Bali dan tahu tata cara Islam yang sederhana, takkan mengingkari juga menodai kawruhnya sendiri, dirinya meski brahmana, lintas agama, tapi tetap tunduk pada kawruh budhi pekerti luhur, ajaran tradisi leluhurnya sendiri.

Beda dengan Syekh selama di Jawa, Syekh tidak pernah merasa dirinya diselisih paham dengan sesama Wali, yang membuat Raja Demak membencinya dan menyeretnya pada tiang gantungan, akibat tuduhan Sunan Bonang dan Sunan Giri, menyebut ajarannya sesat! Padahal inti persoalannya, hanya pada sikap pertentangan politik islamisasi berbudaya arab di Jawa. Dan Sunan KaliJaga yang dikenal dekat dengan Syekh, menyadari itu, Islam cara Jawa nyatanya, membuat Syekh, orang Jawa dan Islam, seperti satu dalam wadah.

Patut kita sadari, agar jangan kedua tokoh ini, seolah kepergian Syekh di Jawa, menyamar menjadi Danghyang Nirartha di Bali. Padahal kedua tokoh ini, berbeda perangai dan karakternya, juga beda pengabdiannya, meski sama-sama datang tiba-tiba, guru mistik dan fenomenal! (habis)

------------------------------------------------------------------------------------
Indra Prabudjati

21 Jan 2010

2010: Menunggu Kebangkitan Majapahit ?

OM Swastyastu,

Majapahit banyak meninggalkan legenda kebesaran imperiumnya di abad silam, Sujiwo Tejo dalam tulisannya di Jawa Pos mengutip buku Prof. Arysio Nunes Dos Santos, Atlantis: The Lost Continent Finally Found, tahun 2005, menunjukkan bahwa kerajaan Atlantik yang pernah berjaya dan sampai sekarang misterius, Sujiwo Tejo beranggapan bisa jadi tempatnya tidak dimana-mana…ya di nusantara ini.

Temuan pakar Amerika latin yang terjemahan Indonesianya terbit Desember 2009. Dennys Lombard, melalui bukunya Nusa Jawa; Silang Budaya. antropolog Perancis juga menggarisbawahi secara lebih detail dan menyakinkan soal betapa istimewanya kedudukan nusantara (Sriwijaya dan Majapahit) dulu, sekarang (Indonesia) maupun, seharusnya dimasa yang akan datang.

Di awal 2010 ini, meskipun pesimistis, melihat gejolak politik perhatian pada kasus Cicak Melawan Buaya, dan skandal Bank Century juga kasus perhatian pada gerakan semilyar koin keadilan bagi Prita Mulyani, ditambah dengan rasa duka cita kepergian almarhum Gus Dur yang fenomenal dan sangat peduli pada keberagaman beragama, rasanya, masih banyak keraguan untuk optismistis 2010, sebagai awal kebangkitan Indonesia.

Persoalan kasus ketidakadilan dan markus-markus hukum yang banyak mencuat, mengawali 2010 sebagai rasa optimis juga pesimis akan menjadikan hukum kembali tegak adil dan beradab di negeri ini. Di bagian lain, ancaman bencana dimusim penghujan seakan juga membayang-bayangi roh spirit kebangkitan Indonesia.

Dalam mitologi Sabdapalon Naya Genggong, mengurai bentuk keprihatinan mendalam perilaku anak bangsa yang lupa hakikat dan martabat diri, bablas menghujat budaya leluhurnya sendiri, perilaku fanatisme agama yang diegokan, dan sedihnya justru korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi lebih dibudi-budayakan. Bisa dibayangkan bahwa selama 64 tahun merdeka, korupsi masih menjadi momok yang sulit diberantas.

Suara Tuhan dalam amanah rakyat, ironinya lebih kuat Suara Setan dalam jiwa pemimpin, pejabat juga tokoh masyarakat yang justru dipercaya dan dipilih rakyat.

Kegandrungan merindukan hadirnya Ratu Adil juga Satria Paningit, tak lepas dari harapan menunggu janji kebangkitan Majapahit. Kini latahisme Majapahit sudah kian lama subur dihati rakyat kecil, seakan menagih janji-janji Sabda Palon Naya Genggong, awal takdir melawan ketidakadilan wong cilik yang telah banyak dibuat susah dinegerinya sendiri, yang bisa saja, kita katakan sudah diawali dengan lahirnya masa reformasi 1998-1999 yang baru berlalu, runtuhnya raja Jawa Orde Baru, dan lahirnya raja Jawa Orde Reformasi, dengan kemunculan Susila Bambang Yudhoyono yang tak dikira-kira, dipilih dan dipercaya jutaan rakyat hingga untuk keduakalinya. Meski banyak yang meragukan, adanya politik perhatian pada kasus Bank Century telah meneggelamkan program 100 harinya, tetapi paling tidak sudah banyak perubahan bagi sebagian besar 200 juta umat manusia, untuk berharap, semakin mendekatkan bangsa dan negaranya pada kehadiran Ratu Adil yang diidam-idamkan, yang akan membawa kembali kejayaan imperium Majapahit (Indonesia) kelak, paling tidak bisa dirasakan sepuluh tahun kemudian (2020).

Sudah barang tentu kita masih tidak lagi sabar menunggu kiranya gerangan wajah presiden yang akan muncul di 2014 dan 2019 nanti. Harapannya adalah Satria yang akan membawa kemakmuran, kesejateraan dan keadilan.
Tetapi, mana mungkin bila hanya menunggu munculnya Satria Paningit di pemilu 2014 atau 2019, kalau kita sebagai generasi muda bangsa hanya duduk, diam dan duit?

Mana mungkin Sabda Palon Naya Genggong akan menang membawa takdirnya, bila kita tidak merubah perilaku juga tabiat yang masih saling menghujat dan adu-bener dalam soal budaya juga agama? Juga bagaimana mungkin tercapai, bila umat Hindu di Bali, Jawa maupun Nusantara masih beribadah untuk kegandrungan mitoisme, feodalisme juga mistisme, ketimbang semangat menyederhanakan ritual dan meningkatkan perilaku yang lebih memiliki gagasan-gagasan revitalisme baru untuk kepentingan yang lebih besar dijaman yang penuh ancaman globalisasi juga moderenisasi.

Padahal kunci dari keberhasilan janji ramalan Sabda Palon Naya Genggong, mengutamakan senjata andalannya bukan keris, trisula ataupun bambu runcing, atau cuma mengandalkan sensasi kerauhan massal berharap dari petunjuk niskala, tetapi adalah Budhi!

Ini jelas bukan tafsir dari segala tafsir yang ada untuk mengatasnamakan kebangkitan untuk Siwa Budha, Budha, Hindu, Islam, Kristen, Katholik juga Kong Hu Cu, tetapi mengangkat senjata ‘Budhi’ yaitu, Budhi pekerti, Budhi susila, Budhi luhur, jelasnya menjadikan bangsa yang kembali Ber’Budhi’! Karena semua agama maupun kepercayaan di Indonesia mengedepankan Budhi, Dharma, Ahlak, Kasih juga Kemuliaan.

Mitologi Sabda Palon Naya Genggong oleh Jayabaya bukan untuk membawa anak cucunya ke medan perang agama sesama saudara sebangsa, tetapi mengajak perang kita terhadap perilaku yang tak lagi ber’budhi’, kembali menjadi jutaan umat yang berbudhi, menjadikan peradaban Indonesia menjadi lebih berbudhi dan beradab.

Aneh rasanya bila dikalangan umat beragama di Indonesia masih ada saling dendam saling jotos juga saling sebut kafir, hanya karena keegoan beragama, jelas sudah, budhi dalam agamanya luntur. Dan yang salah bukan agamanya tapi dirinya sendirinya.

Kita sudah harga mati untuk setuju, bahwasanya wasiat luhur juga warisan leluhur tak ternilai harganya adalah Bhinneka Tunggal Ika. Beragama untuk menunjukkan berbalas santun kebaikan bukan berbalas pantun keburukan. Maka jadilah generasi Hindu Nusantara penerus Majapahit (Indonesia) yang berBudhi dan berReligius dengan sesanti kautamaning urip; mengutamakan si Budhi bukan si Ego.

Bangkitlah generasi penerus Majapahit, dengan giat belajar dan bekerja keras, bukan ramai-ramai membangkit-bangkitkan roh niskala leluhur Majapahit, terjebak pada kesurupan massal ala Majapahit, mudah terjebak pragmatis baru. Majapahit sudah runtuh, bila baik cukup disambut sebagai bagian apresiasinya pada budaya, bila kurang baik jangan ditiru.

Majapahit sejatinya adalah Indonesia yang sekarang, sudah terlalu banyak yang mengklaim keturunan-keturunannya yang membawa wahyu Sabda Palon, bisa menjebak generasi muda Hindu Nusantara dalam persaingan antar tinggi rendahnya status soroh, tentunya menjadi lebih banyak merugikan nantinya.

Inspirasi Kebangkitan Majapahit adalah simbol identitas perjuangan baru melawan korupsi, kebodohan dan kemerosotan moral bangsa Indonesia pasca reformasi 1998. Bukan diartikan kebangkitan adanya agama baru, raja baru, kelompok Majapahit baru, atau anda yang tiba-tiba dirasuki gelar majapahit baru; karena itu semua hanya dalam bentuk apresiasi yang terjadi dimasyarakat, bukan itu yang hendak disampaikan oleh Jayabaya, juga Ranggawarsita dalam ulasan Sabda Palon Naya Genggong, disetiap kelahiran generasi muda mendatang, kelak memimpin negeri ini adalah penyandang wahyu, wahyu dari leluhur kita, inspirasi Jaya Baya, karena beliaulah yang menuliskan legenda itu, bagi kita agar wajib mengembalikannya pada jaman keemasan.

Sejatinya, tidak ada penunjukkan pemegang wahyu Sabda Palon, karena sekali lagi hanyalah kisah fiktif, namun berisikan pesan moral yang bisa dimaknai sebagai ramalan kuno. Begitulah awicara sastra-sastra Jawa, paramasastra dan mardibasanya menyiratkan wejangan juga wedharan, kemampuannya bernawungkrida dapat bermakna ngerti sadurunge winarah, memahami kejadian yang akan datang.

Ramalannya dapat kita pahami, tetapi bukan disikapi tanpa rasa bijaksana juga irrasional, seolah dipaksa masuk diakal tanpa ada upaya mencerahkan kecerdasan spiritualnya.

Semoga, Shanti, Shanti, Shanti a Jaya,
Damai Negeriku, Jaya Negeriku, Makmur Negeriku

29 Jul 2009

Krematorium : Bukanlah Upaya Menggeser Tradisi


Om Swastyastu,
Untunglah bahwa saat ini banyak umat yang mau membuaka diri untuk terus melakukan perubahan dan perbaikan tradisi. Prosesi ngaben bukan hal yang ingin diperkarakan, namun yang mesti kembali dibahas adalah tuduhan ‘Eklusifisme’ setra yang saat ini tentunya diharapkan tidak lagi mengklaim diri sebagai satu-satunya jalan bagi umat menuju kematian.

Benarkah (maaf), jalan menuju kematian umat Hindu Bali dilaksanakan dengan kekeliruan pandangan dalam menjalankan tradisi budayanya sendiri? Apakah banyak kejadian peristiwa prosesi penguburan yang dilakukan atas nama ajaran filosofi budaya yang sebenarnya justru tak sejalan dengan agama dan budayanya itu sendiri.

Karena itu, kita harus berusaha menciptakan kondisi siapapun umat, terlepas peristiwa kematiannya (apapun), dosa atau kesalahan yang dibuat semasih hidup, maupun hutang terhadap kewajibannya mebanjar, hendaknya tetap mendapatkan derajat proses penguburannya.

Karena persoalan yang sekiranya belum terselesaikan selama hidupnya semestinya tetap dapat dilakukan oleh keluarganya tanpa dengan sikap mengkondisikan jenazah dengan perlakuan ketidakmanusiawian, seolah agar dilihat sebagai hukuman yang harus dijalankan dan dijadikan tontonan semua umat. Kita tak boleh berpandangan untuk mengubah hak seseorang dengan menjadikan diri kita sendiri sebagai ‘eksekutor bagi jenazahnya’. Karena hukum bagi jenazah dimanapun menjadi hak dan kewajiban keluarganya dan pantas untuk dikuburkan menurut keputusan keluarganya dengan mengikuti aturan agama yang dianut sebagai aturan tertinggi, kemudian aturan-aturan lainnya yang tidak merendahkan aturan agamanya

Sadar bahwa ‘Eklusifisme Setra’ yang mengakui adanya elemen-elemen tradisi adat istiadat dalam prosesi kematian hingga penguburan yang ditegaskan dalam berbagai pengalaman peristiwa masa lalu hingga sekarang, tabu dan ketat dengan syarat, dan masalahnya, itu (kadang) tidak selalu (harus) masuk akal. Dilain hal, ada umat Hindu berdomisili di Bali berasal dari suku budaya berbeda, atau mereka yang karena suatu hal terpaksa terlepas haknya dari lingkungan adat istiadat, terlintas pertanyaan bagaimana bila kematian tiba? Dikubur dimana? Apakah masih ada sebidang tanah di setra adat yang bisa didapat hanya dengan mengurus administratif saja?

Kini kita sampai pada kesimpulan sederhana bahwa pemahaman dan pemikiran umat tentang prosesi upacara kematian, hingga sekarang ada yang menimbulkan implikasi sosial. Meski cukup jelas bahwa tuduhan ‘eksklusivisme’ setra, tidaklah bermaksud demikian, mengingat tetap ada nilai-nilai ajaran tatwa, susila dan ritual yang diyakini, justru perkaranya ada diluar kerangka filosofi ritualnya, melekat pada pelaksanaannya yang rentan dan potensial menciptakan sikap ‘menghakimi’ seseorang dengan perbedaan syarat dan batasan perlakuan prosesi penguburan, artinya kita diminta mengembalikan aneka mekanisme ‘politik adat’, sosial, ekonomi dan hukum yang telah menyimpang untuk masuk kedalam porosnya semula dibawah kendali agama yang mengatur keadilan dan kemanusiaan. Gagasan mempertimbangkan adanya krematorium sebagai upaya alternatif, berdiri resmi diluar kekuasaan wilayah adat, meski bukan menginginkan menggeser sebuah tradisi toleransi, bisa saja diabaikan bila kita mampu keluar dari bayang-bayang ‘Eklusifisme’ itu, serta harus rendah hati untuk jangan sampai mengira bahwa segalanya logis dan rasional tetapi justru tak dapat dipecahkan sama sekali. Tetap manusiawi dilakukan dengan tradisi pengabenan tradisional, justru ketidak manusiawiannya berada pada kekeliruan yang mengabaikan derajat seorang jenazah. ‘Leteh atau dianggap mengotori’, jelas kewajiban moral yang seharusnya dengan kesadaran iman dan bhakti pada Hyang Maha Mulia membantunya melepaskan ‘leteh’ dengan menyucikan dan menempatkan jenazah pada derajat yang semula.

Kebalikannya tuduhan ‘sikap menggeser tradisi ngaben ke tradisi krematorium’ berikut dengan referensi ritual pitra yadnya dianggap sebagai upaya melunturkan nilai-nilai historis dan toleransi tradisi budaya masyarakat. Kekhawatirannya, apalagi destruksi yang bersifat sosial bisa beralasan, namun sesungguhnya bila diapresiasi dengan baik niscaya membawa pada sikap hidup terbuka terhadap berbagai pemahaman, yang gilirannya bermuara pada penerimaan hidup ditengah pluralisme.

Karena itu, dialog menyederhanakan dan melaksanakan ritual pitra yadnya di krematorium akan tetap memiliki rujukan atau referensi historis dan ajaran agama, bukan sebagai upaya melemahkan tradisi budaya setempat apalagi sekedar mentransformasikan peradaban ke cara pandang budaya modern. Agaknya sulit mencari rumusan yang lebih jelas tentang pengakuan dan jaminan keabsahan pelaksanaan ritual pitra yadnya hingga pada tirta yang harus berasal dari kahyangan tiga, pura-pura sad kahyangan, kawitan, pedharman atau tirta dari sulinggih di gerianya, sebenarnya adalah cukup mewakili dan sejujurnya memiliki hakikat yang sama, sama-sama rumah ibadah, rumah persemayaman leluhur dan perwakilan Tuhan dengan segala manifestasinya.

Dengan sikap inklusivisme menerima kenyataan hidup pluralisme, maka dialog bisa dibangun dan akan sangat nyaman dirasa, kata lainnya, masing-masing pihak tidak harus merasa menahan diri, masing-masinglah yang akan mengambil posisi yang secara moral dan teologis sama-sama akan kita pertanggung-jawabkan kehadapan Hyang Widhi Wasa. Maka bila diakuinya krematorium yang berdiri sendiri, umat yang tidak terwakili di setra adat memperoleh pula pengakuan dan jaminan melaksanakan ibadah prosesi kematian berdasarkan ajaran agama.

Gagasan crematorium tentunya tak harus selalu sama dengan yang dimiliki sebagaimana umat lain, dibangun dengan inspirasi candi dan konsep arsitektural tradisi Hindu di Nusantara. Namanya tak perlu istilah krematorium tetapi menjadi (Panti) Antaka Loka?

Rahayu, Salam Dharma!. Indra Prabudjati (sebagaimana dituliskan untuk majalah Hindu Raditya)

20 Des 2006

Agama adalah tuntunan bukan tontonan

Agama mengajarkan dan menuntun kita menjadi lebih santun dan beradab. Hendaknya tidak dijadikan tontonan, karena agama bukan cerita belaka, tetapi cerita yang diceritakan oleh-Nya, cerita nyata yang harus dan wajib diteladani dan diamalkan, tidak boleh tidak, karena yang diceritakan oleh-Nya bukan hiburan!

Bila itu menjadi tontonan, kita akan banyak mengabaikan perilaku-perilaku yang santun dan beradab, saling sikut dan saling sikat. Maka bila kita masih belum juga beranjak dari deretan bangku-bangku penonton, meski dengan meneriakkan yel-yel nama agama kita, sesungguhnya sama dengan menjadikan agama hanya sebagai tontonan yang perlu dipertarungkan, dipertandingkan dan dimenangkan oleh dirinya sendiri. Ciri-cirinya adalah menjadikan dirinya sebagai seorang supporter belaka, oleh karenanya dalam sekejap mudah membabi buta dan membakar sebuah kota, menyiksa orang lain dengan kekerasan dan arogansi terhadap siapapun yang meremehkan agamanya.

Perilaku demikian, jelaslah bukan sebuah keyakinan beragama yang baik dan patut diteladani oleh kita, mengingat keyakinan beragama jelas harus diikuti dengan pemahaman dari usaha-usahanya melakukan pendakian dan pengalaman di pelbagai episode-episode peristiwa perjalanan kehidupannya.

Dilain hal, perlu juga kita yakini, bahwa toleransi bukanlah anjuran belaka, karenanya toleransi melebihi dari hakikat perbedaan, sangat lihai dan unggul dalam menyikapi setiap perbedaan dalam satu lingkungan, satu kota hingga satu kepulauan, Nusantara.

Bhinekka Tunggal Ika, adalah bentuk lahiriah toleransi dan solidaritas bangsa kita yang cerdas dan mandiri, ia tercipta tidak begitu saja, tetapi dari berbagai mitologi dan historis sejarah peradaban bangsa kita. Tak heran leluhur,parapinisepuh dan orang-orang tua bijak, siapapun mengajak kita untuk tak mempedulikan perbedaan, agama maupun keyakinan dan tradisi adalah wajah ekspresif budaya masing-masing dari kita yang majemuk, ia telah mengakarinya dengan lahiriah turun-temurun, tentunya bila kita tak menyadari pentingnya toleransi akan banyak mengabaikan semangat persatuan dan kesatuan dan melahirkan anak-anak bangsa yang tak lagi santun dan beradab. Sebagaimana cerminan sloka dalam Weda ‘hanyalah bangsanya sendiri yang dapat merubah nasib bangsanya sendiri’.

Merubah dengan tatanan dan tuntunan agama yang dibangun dengan semangat kebhinekkaan, bukan memaksakan keyakinannya beragama terhadap orang lain, Itu sama dengan jiwa penjajah!, meski jelas bukan penjajah tempo dulu, namun tak beda jauh , sama persis! Karena bangsa penjajah akan senang hati memaksakan kehendaknya dengan mengorbankan nyawa orang banyak sekalipun kepada siapapun yang bertentangan dengan dirinya Jadi tak ada alasan untuk meniru-niru menjadi penjajah di negerinya sendiri apalagi pada agamanya sendiri, bentuk sebuah pengkhianatan diri terhadap-Nya.

‘Hiduplah agama nir-kekerasan, karenanya pula, bekerja keras bukanlah mengerjakannya dengan keras hati tapi rendah hati’ Indra prabudjati

12 Des 2006

Saatnya Membaca Weda

‘Sesungguhnya yang demikian ialah jiwa-jiwa-Ku yang telah kembali kepada-Ku dengan kesadarannya mencari dan mengingatkan dirinya, sesungguhnya yang demikianlah semakin mendekatkannya kepada-Ku’
Indraprabudjati 2005


Bertanyalah pada-Ku (pada Veda),
Setiap saat kamu inginkan
Tiada beda diantaramu, yang merasa suci maupun berdosa pada-Ku
Niscaya Ku-berikan apa yang engkau inginkan dari-Ku
Indraprabudjati 2005

Membaca Weda di zaman sekarang adalah kebutuhan dan keharusan, masihkah kita tetap mengabaikan dan bahkan malas untuk membiasakan diri dengan membaca Veda sebagaimana kita harus makan dan minum?

Sayang, kalau kita masih sangat membatasi diri dengan berbagai pengetahuan agama dengan membaca kitab-kitab suci dari-Nya. Mulailah membiasakan diri dengan berbagai bacaan yang sangat membantu kita mencerahkan dan mencerdaskan pikiran kita.

Dengan demikian tidak saja mendapatkan sebuah wawasan baru namun juga mampu membawa perubahan pola pikir dan pola hidup kita yang semakin berkualitas. Mulailah dengan membaca sloka-sloka yang anda minati, lalu beranjak ke sloka-sloka yang bertemakan hal-hal yang anda sukai pada saat itu, kemudian cobalah lagi tingkatkan minat membaca kita pada kitab-kitab lainnya tentang sastra agama, itihasa maupun renungan-renungan rohani yang sekarang sudah mulai banyak dituliskan oleh para spiritualis umat Hindu di Nusantara yang tak kalah menariknya dalam olah-mutu tulisan, kajian dan wawasannya dengan dari India maupun barat.

Pada umumnya bila dituliskan oleh penulis dari umat kita sendiri, tutur bahasa dan kajiannya amat mudah dicerna berhubung selalu mengedepankan realitas yang sesuai dengan keadaan dan suasana kita dilingkungan umat Hindu di Nusantara.

Membaca Veda adalah sebuah keharusan karenanya mutlak dibaca, dipahami dan diperbuat dengan baik dan benar. Sebagaimana sebuah kitab suci, didalamnya tertuang kalimat-kalimat suci yang mencerahkan hati dan pikiran, menyuratkan banyak berbagai anjuran dan nasehat-nasehat mulia sebagai pedoman kehidupan di duniawi dan akhirat. Bagaikan membaca 1000 buku adalah makna dari sebuah kitab suci, berbagai pengetahuan dasar sebagai pedoman bathin, penuntun kita mengarungi perjalanan kehidupan dari masa ke masa tanpa tertinggal oleh zamannya sendiri. Ia begitu kokoh, inspiratif, instruktif dan bijaksana.

Membacanya sama halnya semakin mendekatkan diri kita kehadapan Gusti Hyang Widhi yang Maha Tahu.Tak salah lagi kalau kita akan selalu senang dan damai dengan bertanya kepada-Nya melalui makna-makna sloka-sloka yang kita baca, bertanyalah dengan merenung, memikirkan dan mengamalkannya.
Rahayu, Indraprabudjati